daerah

HGN 2025, Upaya Negatif Sekolah Negeri Surabaya Mencukupi Biaya PBM

Rabu, 26 November 2025 | 10:25 WIB
Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Imam Syafi’i, saat melakukan inspeksi ke SMPN 37 di Jalan Kalianyar, Kecamatan Genteng, Selasa (25/11/2025) (Nawi)

NAWACITAPOST.COM — Perayaan Hari Guru Nasional di Surabaya justru diwarnai temuan penting dari kalangan legislatif mengenai kondisi faktual sekolah negeri yang masih jauh dari layak. Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Imam Syafi’i, melakukan inspeksi ke SMPN 37 di Jalan Kalianyar, Kecamatan Genteng, Selasa (25/11/2025), setelah menerima aduan wali murid terkait dugaan kenaikan harga jajanan kantin yang dinilai membebani siswa.

Dalam kunjungan tersebut, Imam Syafi’i bertemu Wakasek Kurikulum Dwi Cahyawati dan Wakasek Humas Srimulat Widiarti. Kepala sekolah dikabarkan tengah menghadiri upacara peringatan Hari Guru di Balai Kota.

Imam menegaskan bahwa orang tua murid mengeluhkan setiap item jajanan dinaikkan Rp1.000 oleh pihak sekolah. “Misalnya gorengan harga Rp 2.000 dijual Rp 3.000 … kemudian ayam keprek dari harga Rp 9.000 dijual Rp 10.000, berarti per seribu diambil mereka,” ujar Imam. Pihak sekolah berdalih bahwa kenaikan harga sudah melalui kesepakatan dengan pedagang dan dana yang terkumpul digunakan untuk kegiatan pelajar.

Namun, Imam menilai mekanisme tersebut bermasalah. “Kira-kira setiap bulannya bisa dapat Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta dari 3 atau 4 pedagang. Margin itu terlalu tebal. Ini pertama merugikan siswa, kedua bisa bikin dagangan tidak laku dan merugikan pedagang,” tegasnya.

Menurut Imam, persoalan ini hanyalah gejala dari masalah yang lebih besar: ketidakcukupan fasilitas di sekolah negeri, sehingga guru maupun pihak sekolah mengambil inisiatif sendiri yang akhirnya berdampak negatif. “Ternyata fasilitas untuk kepentingan proses belajar-mengajar sekolah negeri di Surabaya masih belum diberikan semuanya. Akhirnya sekolah atau guru-guru pakai cara sendiri-sendiri,” ujar Imam.

Kondisi ini semakin ironis karena SMPN 37 memiliki 261 siswa MBR dari total 757 siswa, atau lebih dari 30 persen berasal dari keluarga tidak mampu. Namun, sekolah ini belum mendapatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Loh, siswa miskin ini … kalau jajan harga segitu apa tidak menambah beban? Padahal sekolah-sekolah yang MBR-nya sedikit saja sudah dapat MBG,” sindir Imam.

Ia juga membeberkan data terbaru: dari lebih dari 3.000 sekolah di Surabaya, baru sekitar 80 yang mendapatkan MBG, atau hanya 2 persen yang terlayani. Imam berharap Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai penentu sekolah penerima MBG dapat memprioritaskan sekolah-sekolah di kawasan padat penduduk dan kantong kemiskinan seperti Genteng, Simokerto, Tambaksari, Semampir, dll.

"Selamat Hari Guru Nasional," Pekik Imam Syafi'i, Politisi Partai Nasdem. ***

Tags

Terkini