daerah

Terkait Prostitusi Moroseneng, Eri Cahyadi Bantah Isu Setoran ke Aparat: “Gak Onok Iku!”

Senin, 13 Oktober 2025 | 17:38 WIB
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (Nawi)

NAWACITAPOST.COM – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi angkat bicara usai aparat Polrestabes Surabaya berhasil menangkap dua orang yang diduga mucikari di kawasan Klakahrejo, Benowo, eks lokalisasi Moroseneng, pada Minggu dini hari (12/10/2025).

Ia menegaskan bahwa penangkapan tersebut merupakan bagian dari kerja sama erat antara Pemkot Surabaya, Polrestabes, dan TNI dalam upaya membersihkan kota dari praktik prostitusi.

“Itu kan kerjasama dengan kita. Kita memang sudah melakukan kegiatan pengamanan di sana beberapa hari yang lalu, melibatkan Polrestabes dan juga TNI,” ujar Eri usai menghadiri rapat paripurna di DPRD Kota Surabaya, Senin (13/10/2025).

Eri menjelaskan, kawasan Moroseneng kini diawasi ketat karena lokasinya tertutup dan terkunci dari dalam, sehingga tampak seolah tidak ada aktivitas mencurigakan dari luar. Namun, pihaknya bersama aparat keamanan telah menempatkan pos penjagaan di area tengah kawasan untuk memastikan tidak ada lagi praktik prostitusi terselubung.

“Tempatnya itu tertutup, terkunci dari dalam. Kalau dari luar kelihatan tidak ada apa-apa, makanya kita tempatkan pos penjagaan di tengah-tengah kawasan, supaya bisa dipantau penuh,” terangnya.

Menurut Eri, pos penjagaan di Moroseneng sudah aktif selama dua minggu penuh, dengan dukungan langsung dari Kapolrestabes Surabaya dan Kodim. Langkah ini diambil untuk memastikan kawasan eks lokalisasi tersebut tidak lagi digunakan sebagai tempat prostitusi atau aktivitas ilegal lainnya.

“Sudah dua minggu ini kita jaga full di sana. Itu juga atas saran dari Pak Kapolres dan Pak Dandim. Posnya kita taruh di tengah-tengah supaya kalau ada yang masuk atau keluar bisa langsung terpantau,” kata Eri.

Meski begitu, ia mengakui masih ada pihak-pihak yang nekat melakukan praktik prostitusi secara tertutup dari dalam bangunan. Karena itu, ia menegaskan bahwa Pemkot Surabaya bersama aparat akan terus melakukan pengawasan dan penindakan tegas.

“Kalau masih ada yang nekat dari dalam, berarti itu jelas salah. Kalau nanti ditemukan lagi, sanksinya langsung ditangani oleh Polrestabes, karena itu sudah masuk ranah pidana,” ujarnya tegas.

Terkait bangunan-bangunan di kawasan tersebut, Eri memastikan Pemkot Surabaya akan tetap mengamankan aset dan mencegah penyalahgunaan. Beberapa rumah yang telah dibeli oleh pemerintah kota bahkan akan dialihfungsikan menjadi pusat kegiatan sosial dan pemuda.

“Rumah-rumah yang sudah kita beli akan dijadikan pusat kegiatan karang taruna dan kegiatan warga lainnya. Kita ingin wilayah itu hidup dengan kegiatan positif, bukan lagi dikaitkan dengan prostitusi,” terang mantan Kepala Bappeko Surabaya itu.

Eri juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk media, untuk ikut menjaga kondusivitas dan membantu pemerintah dalam pengawasan kawasan-kawasan rawan.

“Saya juga minta warga dan wartawan ikut jaga. Kota ini milik kita bersama, tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah saja,” katanya.

Ketika ditanya soal dugaan adanya aliran dana atau pungutan liar (pungli) yang mengalir dari pelaku prostitusi ke aparat di tingkat bawah, Eri menepis dengan tegas.
“Gak onok iku (tidak ada itu),” ucapnya singkat sambil berjalan menuju lift. ***

Tags

Terkini