Majalengka, NAWACITAPOST.COM - Anggaran Dana Desa Tahun 2025 capai Rp 69 Triliun untuk pembangunan desa diseluruh wilayah Indonesia. Maka dari itu, Kementerian Desa menggandeng seluruh Perguruan tinggi untuk dapat terlibat aktif mengawali tersebut.
Ditengah kegiatan Dies Natalis Universitas Majalengka, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mengajak seluruh perguruan tinggi, termasuk Universitas Majalengka (UNMA), untuk terlibat aktif dalam mengawal dan mengoptimalkan pemanfaatan Dana Desa 2025.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan Kemendes PDTT, Nugroho Setijo Nagoro, sebagai bagian dari strategi nasional untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem dan mendorong kemandirian desa.
"Kami terbuka untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi, termasuk Universitas Majalengka, untuk mengembangkan desa, menyelesaikan masalah desa kemiskinan di desa di majalengka," ungkap Nugroho saat memberikan sambutan secara daring, Sabtu (19/04/2025).
Menurut dia, dari total Dana Desa 2025 sebesar Rp 69 triliun, Kemendes menetapkan pembagian alokasi diantaranya 15 persen dalam rangka pengentasan kemiskinan ekstrem.
Tak hanya itu, sebanyak 20 persen untuk penguatan ketahanan pangan, 3 persen untuk program-program prioritas nasional lainnya, serta 68 persen dapat ditentukan secara mandiri oleh pemerintah desa melalui musyawarah desa.
"Kami harap dana desa meninggalkan jejak dan dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat desa dan meningkatkan kualitas hidup desa," jelasnya.
Sejak pertama kali diluncurkan pada 2015, total anggaran Dana Desa yang telah dikucurkan hingga 2025 diperkirakan mencapai Rp610 triliun.
Anggaran tersebut telah digunakan untuk membangun infrastruktur desa, menurunkan angka kemiskinan, serta meningkatkan akses pelayanan dasar di perdesaan.
Kemendes menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam pendampingan, edukasi, serta perencanaan pembangunan desa. Kolaborasi dengan dunia akademik diyakini dapat memperkuat tata kelola Dana Desa dan menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat desa secara lebih ilmiah dan berkelanjutan.
"Kami harap civitas akademika bisa membantu masyarakat desa menggali potensi, merancang kegiatan yang tepat, dan mengelola dana serta sumber pendapatan lainnya secara bijak," ujarnya.
Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menciptakan desa-desa yang mandiri, produktif, dan berdaya saing, tidak hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga dalam tata kelola, inovasi sosial, dan pembangunan berkelanjutan"pungkasnya. (Defri Ardiansyah)