NAWACITAPOST.COM – Direktur Utama Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Surabaya, Fajar A. Isnugroho, memastikan hingga saat ini tidak ada sapi yang terindikasi Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) di RPH Surabaya. Hal ini berkat penerapan prosedur operasional standar (SOP) yang ketat sejak wabah PMK melanda pada 2022 lalu.
“Kami telah menetapkan SOP yang ketat untuk memastikan hewan yang masuk ke RPH dalam kondisi sehat,” ujar Fajar pada Senin (13/1/2025). Ia menjelaskan, semua sapi yang masuk wajib disertai Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah asal.
Proses Screening Berlapis
Menurut Fajar, langkah pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan dokumen kesehatan hewan. “SKKH memastikan sapi yang dikirim ke RPH tidak membawa penyakit. Selain itu, dokter hewan kami juga memeriksa kesehatan sapi saat tiba di RPH,” jelasnya.
Tak hanya itu, RPH Surabaya juga menerapkan biosekuriti dan biosafety yang ketat. “Kami menyemprotkan disinfektan di tiga lokasi utama, yakni kandang penampungan, tempat pemotongan dan pencucian jerohan, serta truk pengangkut hewan,” tambah Fajar. Berkat langkah ini, hingga kini belum ada temuan sapi terindikasi PMK di RPH Surabaya.
Permintaan Daging Tetap Stabil
Fajar juga menegaskan bahwa isu PMK tidak memengaruhi permintaan daging di Surabaya. “Pemotongan tetap normal, sekitar 150 ekor per malam. Permintaan masyarakat juga stabil. Kami terus mengedukasi masyarakat agar tidak khawatir secara berlebihan terhadap PMK,” katanya.
Ia menambahkan, PMK hanya berbahaya pada sapi yang masih hidup. Setelah sapi dipotong, virus ini tidak lagi aktif jika daging dimasak dengan suhu tertentu. “Daging yang sehat aman dikonsumsi, asalkan bagian mulut, kaki, dan jerohan dari sapi yang terindikasi PMK dihindari,” jelasnya.
Karantina untuk Sapi Terindikasi PMK
Fajar menjelaskan SOP yang diterapkan jika ditemukan sapi dengan gejala PMK di kandang penampungan. “Sapi yang menunjukkan gejala seperti hipersalivasi atau lemas akan dipisahkan di tempat isolasi. Jika tidak sembuh dalam dua hari, sapi tersebut akan segera dipotong,” katanya.
Meski daging sapi dengan PMK relatif aman, Fajar menyarankan masyarakat menghindari bagian mulut, kaki, dan jerohan. “Virus PMK tidak menyebar ke manusia, tetapi kami tetap mengutamakan kehati-hatian demi mencegah risiko apa pun,” tutupnya. ***