Jakarta, NAWACITApost.com - Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menyampaikan, Ibu Kota Nusantara (IKN) harus menjadi kota layak anak yang diakui dunia. Karena itu, menurut Moeldoko, penanganan stunting dan gizi buruk pada anak bisa dimulai dari IKN yang berlokasi di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim).
"Jangan sampai nanti ada gizi buruk dan stunting di sekitar IKN," kata Moeldoko, di Jakarta beberapa waktu lalu.
Moeldoko berharap, ada kampanye skala besar antara United Nations Children's Fund (UNICEF) dengan KSP, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan sejumlah kementerian terkait untuk menciptakan kesadaran pentingnya masalah stunting di masyarakat. Persoalan stunting, menurut Moeldoko, merupakan salah satu isu yang menjadi perhatian utama Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Pada 2013, angka prevalensi stunting di Indonesia mencapai angka 37,2 persen. Kebijakan penurunan stunting Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjukkan hasil yang sangat baik dengan prevalensi stunting di tahun 2022 mencapai angka 21,6 persen. Pemerintah optimistis dapat mencapai target prevalensi stunting di tahun 2024 hingga menjadi sebesar 14 persen
"Nanti harapannya, di tahun 2024 kita pindah ke IKN, sudah tidak ada lagi angka stunting dan gizi buruk," imbuhnya.
Pascapandemi Covid-19, UNICEF berkomitmen membantu pemerintah Indonesia untuk mengejar peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat yang sempat tertinggal selama 2 tahun. UNICEF juga ingin, IKN menjadi kota layak anak yang diakui dunia melalui penilaian Kota Layak Anak Tingkat Dunia atau Child Friendly Cities Initiatives (CFCI).
"UNICEF sangat tertarik untuk melanjutkan diskusi terkait ini, juga terkait digitalisasi data stunting demi mencapai target prevalensi stunting 2024," kata Country Representative UNICEF Indonesia, Maniza Zaman.
UNICEF juga mengatakan, Indonesia perlu menunjukkan upaya penanganan stuntingnya kepada dunia. Menurut Maniza, Indonesia dapat mengikuti jejak 4 negara dunia yakni Peru, Thailand, Vietnam dan Brazil yang berhasil mendokumentasikan keberhasilannya menurunkan prevalensi stunting.