Di samping itu, dalam pembelajaran tatap muka di kelas mahasiswa mendapat banyak kesempatan untuk bisa belajar memecahkan masalah baik secara individu maupun bersama (Chikiwa & Schäfer, 2018; W. C. Wu & Perng, 2016). Kemudian mencari informasi terkait materi yang diberikan dari berbagai sumber dan berdiskusi langsung dengan teman bersama dosen mata kuliah (W. C. Wu & Perng, 2016). Hal ini menyebabkan mahasiswa dapat dengan mudah memecahkan permasalahan yang diberikan.
KESIMPULAN
Pembelajaran tatap muka memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berinteraksi langsung kepada dosen dan mahasiswa lainnya di kelas selama mengikuti perkuliahan. Penerapan pembelajaran tatap muka pada mata kuliah pemeriksaan laboratorium penyakit autoimun lebih baik daripada pembelajaran tatap maya.
Hal ini ditunjukkan pada kenaikan yang signifikan pada rata-rata nilai ujian akhir(Finaltest) terhadap rata-rata nilai ujian tengah(Midtest) semester. Pembelajaran tatap muka menyebabkan terjadinya kenaikan nilai minimal ujian mahasiswa sebesar 14 poin (28%).
Sedangkan nilai maksimal ujian mahasiswa mengalami kenaikan dua poin (2,12%). Disamping itu pembelajaran tatap muka menyebabkan kenaikan sebesar 14,41% dari nilai rataan 71,1 menjadi 81,35. Teknik pembelajaran ini juga berimbas adanya penurunan standar deviasi sebesar 12,4% dari 9,03497 menjadi 7,91477.
Nilai sigma yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa pembelajaran tatap muka lebih baik dari pada pembelajaran tatap maya. Hasil wawancara mendukung bahwa pembelajaran tatap muka lebih baik daripada pembelajaran tatap maya pada mata kuliah autoimun di program studi Pendidikan Dokter di tahun pertama perkuliahan.
Artikel lengkapnya ini dapat dilihat di Jurnal terakreditasi Sinta 3
https://jurnal.unublitar.ac.id/index.php/briliant/issue/view/36