"Kita juga melakukan pendampingan secara berkala dan memotivasi pada masyarakat yang berupaya untuk berhenti merokok, pasien-pasien di puskesmas kita juga lakukan metode terapi akupuntur atau tusuk jarum," terang Nanik.
Baca Juga: Satu Dasa Warsa, Umaha berkontribusi mencerdaskan anak bangsa
"Dinkes juga membuka layanan hotline untuk upaya berhenti merokok ini, yaitu di nomor telpon 08001776565, ini bebas pulsa," ujarnya.
Nanik juga menerangkan bahwa Kota Surabaya sedang berinovasi untuk melakukan pembentukan kampung bebas asap rokok yang akan diterapkan di 50 RW di kota Surabaya.
"Dalam hal ini kami bersinergi dengan pihak-pihak Kecamatan, RT dan RW, LPMK, Kader Surabaya Hebat. Mudah-mudahan, upaya-upaya preventif yang kita lakukan tentang kawasan tanpa rokok dan upaya berhenti merokok di Kota Surabaya dapat berjalan dengan lancar," harap Nanik memungkasi.
Baca Juga: Gelar wisuda bagi 484 lulusan, Berikut berbagai Prestasi kampus berbudaya UWKS
Pada kesempatan yang sama, Dekan FKM Unair Prof. Dr. Santi Martini menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi yang luar biasa.
"Respon Pemkot Surabaya sangat luar biasa, saya salut angkat Jempol, terutama mudahnya kerjasama untuk hal-hal yang maju dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya," ungkap Dekan Santi Martini.
"Upaya ini tidak hanya peran dinas kesehatan, tapi tanggung-jawab kita semua," katanya.
Kegiatan ini adalah bagian dari bentuk edukasi dan promosi untuk hidup sehat dalan rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
Santi memaparkan bahwa, beberapa waktu lalu BPJS Kesehatan telah merilis bahwa penyakit-penyakit yang banyak menyedot dana BPJS adalah penyakit ginjal kronis, penyakit kanker, kemudian hipertensi, kardiovaskuler, dan diabetes melitus. Yang mana penyakit-penyakit itu bisa dikenali faktor resikonya berkaitan dengan paparan asap rokok.
"Dan kita tahu, biayanya tidak sedikit baik di level makro maupun mikro. Di tingkat rumah tangga, kalau ada sudah yang menderita penyakit kronis itu, pasti akan terjadi shifting atau peralihan biaya belanja keluarga.
"Penting kita memberikan pemahaman kepada masyarakat bahayanya. Tak hanya kita sampaikan kepada orang-orang tua, tapi juga sejak dini, usia anak-anak dari SD hingga SMA," sebut Santi.
Baca Juga: Jember 'J-Co TF 2024', Momentum kebangkitan petani kopi dan UMKM Jawa Timur