Penulis oleh dosen dan mahasiswa:
dr. hanna windyantini, M.Pd., Ked, dr. aulia fahira, M.Biomed, dr. irma seliana, M.Kes, dr. riana retno widiastuty, M.Sc, Sp.PK, dr. fitri sepviyanti sumardi, Sp. An-TI., Subsp. NA (K), M.Kes, dr Dewi Retnoningsih, Sp. MK, Subsp. Mik(K), dr. Rifda El Mahroos, aurellia angie amara, mikael krishna aryya putra artanti, wistara tsary abdad, nengah michael dharma djarin, i made andika prakosa, eka yuama aprilia rahmawati, khansa tsabitah aulia, zebaa basyaasyah baarigh syahbaa, salsabilla haya pratama.
FAKULTAS KEDOKTERAN UPN “VETERAN” JAWA TIMUR
Penyebab pencemaran udara yang paling utama adalah terkait dengan manusia. Manusia menjadi penyebab utama dan terbesar pada kasus pencemaran udara. Pencemaran udara bisa disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor alam dan faktor manusia.
Pencemaran udara merupakan salah satu kerusakan lingkungan, karena dapat menyebabkan penurunan kualitas udara karena masuknya unsur-unsur berbahaya ke dalam udara atau atmosfer bumi. Unsur-unsur berbahaya yang masuk atmosfer bumi berupa karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (No2), chlorofluorocarbon (CFC), sulfur dioksida (So2), Hidrokarbon (HC), Timah (Pb), dan Karbon Dioksida (Co2).
Dengan perkembangan zaman yang terus berlangsung, kita semakin dihadapkan pada masalah polusi yang semakin tinggi. Berdasarkan World Health Organization (WHO) polusi udara adalah kontaminasi lingkungan dalam atau luar ruangan oleh zat kimia, fisika, atau biologi apa pun yang mengubah karakteristik alami atmosfer.
Polutan yang dihasilkan biasanya berupa asap,debu, dan gas. Polusi udara merupakan masalah yang serius di Indonesia, dampak dari segi fundamental (dasar) menyebabkan pengaruh dalam kesehatan masyarakat serta lingkungan. Berdasarkan laporan terbaru Kualitas Udara Dunia IQAir 2021, Indonesia menduduki peringkat ke-17 sebagai negara dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia,
Hal ini menunjukkan bahwa indonesia menduduki peringkat tertinggi sebagai negara polusi di kawasan Asia Tenggara. Khususnya pada ibukota negara kita yaitu Jakarta.Polusi udara di Jakarta sendiri menjadi salah satu sorotan beberapa tahun ini. Bahkan menurut data yang dilansir pada situs aqin.org, kualitas udara Jakarta sempat mencapai skala 170 AQI yang sudah termasuk kualitas udara yang tidak sehat.
Hal ini menunjukkan bahwa polusi udara di Jakarta memiliki potensi untuk menyebabkan dampak negatif yang signifikan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sudaryanto et al. (2020), pencemaran udara dapat mengakibatkan berbagai penyakit pernapasan seperti asma, bronkitis, dan gangguan paru-paru lainnya.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu dampak dari polusi udara yang signifikan terutama di Jakarta. Menurut data yang dirilis oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, tercatat sebanyak 638.291 kasus ISPA terjadi di Jakarta dalam rentang waktu Januari hingga Juni 2023.
Penyebab pencemaran udara yang paling utama adalah kendaraan bermotor, pabrik-pabrik industri, hingga limbah rumah tangga. Semakin banyak penduduk, makin banyak kendaraan yang ada di jalan raya. Maka dari itu mengapa polusi udara lebih banyak dan berbahaya pada daerah perkotaan dibanding pedesaan.
Baca Juga: 'UPN Mengabdi', Pengmas Dosen FK UPN Veteran Jatim Fokus Deteksi Dini Anemia