NAWACITAPOST.COM — Ruang kerja kepala sekolah yang seharusnya menjadi episentrum kebijakan, moralitas, dan rasa aman bagi para siswa, mendadak berubah menjadi panggung mimpi buruk. Dunia pendidikan di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara kini diguncang gempa moral yang hebat.
Mantan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Angkola Selatan (Angsel), yang berinisial MTH, kini berada di bawah sorotan tajam publik dan bidikan aparat penegak hukum. Ia diduga kuat telah melakukan tindakan asusila—pencabulan dan pelecehan seksual—terhadap siswinya sendiri yang masih di bawah umur.
Rekaman CCTV: Saksi Bisu yang Merobek Topeng Otoritas
Kasus ini tidak lagi sekadar menjadi kasak-kusuk di lorong sekolah. Jagat maya, mulai dari grup percakapan warga hingga beranda Facebook di wilayah Tapanuli Selatan, mendadak bergejolak panas. Pemicunya sangat kuat: beredarnya rekaman gambar CCTV yang diduga menangkap dengan jelas gerak-gerik bejat pelaku terhadap korban sepanjang tahun 2025 lalu.
Baca Juga: Hukum Tebang Pilih? Nestapa Samian, Tukang Siomay yang 'Terjebak' Status Tersangka Selama Setahun!
Korban—sebut saja Melati (bukan nama sebenarnya)—adalah seorang siswi aktif yang masa depannya kini dipertaruhkan. Ironis dan memilukan, sosok yang seharusnya menjadi pelindung, pembimbing, dan teladan tertinggi di sekolah, justru diduga menjadi predator yang memangsa anak didiknya sendiri. Aksi keji ini disinyalir dilakukan berulang kali di dalam ruang kerja MTH saat ia masih aktif menjabat.
"Bagaimana mungkin seorang anak bisa belajar dengan tenang jika sosok yang paling dihormati di sekolah justru menjadi ancaman terbesar?"
Pelaku Bungkam, Amarah Publik Memuncak
Hingga Jumat (29/5/2026), MTH memilih untuk mengambil langkah seribu bahasa. Upaya konfirmasi yang dilakukan oleh awak media—mulai dari ajakan pertemuan langsung, pesan teks, hingga panggilan telepon via WhatsApp—sama sekali tidak direspons. Sikap bungkam ini justru memicu spekulasi liar dan mempertebal keyakinan publik bahwa ada skandal besar yang sedang berusaha ditutupi.
Gerakan perlawanan pun muncul dari masyarakat. Seorang warga Kelurahan Napa, yang menyembunyikan identitasnya demi keamanan, dengan berani menyebarkan informasi ini ke berbagai lini massa.
"Kami marah, kami kecewa! Profesi guru yang mulia ini dikotori oleh ulah oknum tidak bertanggung jawab. Kasus ini tidak boleh diredam!" tegasnya melalui pesan berantai yang viral.
Tiga Tuntutan Mutlak Rakyat Tapanuli Selatan
Masyarakat Tapanuli Selatan kini bersatu membentuk barisan pengawas. Mereka menilai tindakan MTH telah merusak masa depan anak bangsa dan melanggar hukum secara telanjang. Publik secara tegas melayangkan tiga tuntutan:
-
Aparat Penegak Hukum Bergerak Cepat: Polres Tapsel dan Kejaksaan didesak segera melakukan penyelidikan mendalam, menyita rekaman CCTV resmi sekolah, dan menyeret pelaku ke meja hijau.
-
Dinas Pendidikan Turun Tangan: Melakukan evaluasi total terhadap sistem keamanan siswa agar tragedi serupa tidak pernah terulang lagi.
-
Transparansi Tanpa Pandang Bulu: Proses hukum harus berjalan terbuka. Publik menolak keras jika kasus ini menguap begitu saja seperti kasus-kasus masa lalu.
Baca Juga: Paradoks Padangsidimpuan: Senyum WTP di Atas Air Mata dan Dugaan Raibnya Ratusan Miliar Dana Bencana