NAWACITAPOST.COM – Langit di atas perairan Lamawohong, Solor Barat, tampak muram, seolah turut merasakan kecemasan yang mendalam dari keluarga yang menanti di tepian pantai. Sudah lima hari berlalu sejak Toncefilius Laka Werang, warga Desa Kalelu, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) menghilang dalam dekapan ombak.
Hingga Selasa (28/4/2026), laut masih membisu, menyembunyikan misteri keberadaan sang nelayan di balik gulungan ombaknya yang tak menentu.
Kronologi Kehilangan yang Menyayat Hati
Tragedi ini bermula pada Jumat siang (24/4/2026), saat Toncefilius pamit untuk melaut, rutinitas yang selama ini menghidupi keluarganya. Namun, matahari terbenam tanpa kepulangannya. Kabar duka ini sempat tertahan dalam sunyi sebelum akhirnya laporan resmi baru mendarat di meja pihak berwenang pada Minggu malam (26/4/2026).
Jeda waktu antara hilangnya korban dan laporan resmi menciptakan urgensi yang luar biasa bagi tim penyelamat. Plt. Kepala BPBD Flores Timur, Ariston K. O. Tokan, menyatakan bahwa setiap detik kini menjadi sangat berharga.
Baca Juga: Langkah Cepat Antisipasi Cuaca Ekstrem, Pemkab Flores Timur Perketat Kesiapsiagaan Wilayah
"Kami bergerak secepat mungkin setelah laporan diterima. Koordinasi lintas instansi segera dilakukan karena kita sedang berpacu dengan waktu dan luasnya samudera," tegas Ariston.
Operasi Kemanusiaan di Tengah Amukan Gelombang
Sejak Senin sore, operasi pencarian skala besar telah diluncurkan. Sebanyak 11 personel elit dari tim gabungan dikerahkan untuk menyisir setiap jengkal perairan yang menjadi saksi bisu hilangnya korban. Kekuatan ini terdiri dari:
- 6 Personel BPBD Flores Timur
- 3 Personel Basarnas Maumere
- 2 Personel Polairud Polres Flores Timur
Tak hanya personel terlatih, semangat gotong royong warga Desa Kalelu juga berkobar. Di samping unit rubber boat milik petugas, empat perahu motor nelayan setempat turut memecah ombak, memperluas jangkauan penyisiran hingga ke titik-titik yang sulit dijangkau.
Tantangan Alam yang Tak Kenal Ampun
Pencarian ini bukanlah misi yang mudah. Tim gabungan harus berhadapan dengan keganasan alam Flores Timur. Gelombang laut yang tinggi dan arus bawah yang sangat kuat menjadi rintangan utama yang menguji fisik serta mental para penyelamat.
Baca Juga: Turun ke Ladang, Yasonna Laoly Serap Jeritan Petani Deli Serdang: Negara Harus Hadir!
"Cuaca sangat fluktuatif. Arus laut di sekitar Lamawohong bisa berubah dalam hitungan menit, memaksa kami untuk terus menghitung ulang koordinat penyisiran," ungkap salah satu anggota tim di lapangan.
Harapan di Ujung Penantian
Di daratan, suasana haru menyelimuti kediaman keluarga korban. Doa-doa terus dipanjatkan, berharap ada keajaiban yang membawa Toncefilius pulang. Namun, realitas di lapangan memaksa tim untuk tetap waspada dan realistis.
Pemerintah setempat melalui BPBD dan pihak kepolisian mengimbau dengan keras kepada seluruh nelayan agar mengutamakan keselamatan. Cuaca ekstrem yang sering datang tiba-tiba di perairan Flores Timur adalah pengingat betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam.
Baca Juga: Alarm Merah Kesehatan: Menelusuri 9 Kota Kolesterol yang Mengancam Jantung Bangsa!