Surabaya NAWACITAPOST - Selain pendidikan dan Penelitian, perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat.
Dalam melaksanakan hal ini, para Dosen dan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK-UWKS) kembali turun serta merta memberikan pengabdiannya kepada masyarakat. Kali ini diwujudkan dengan memberikan penyuluhan dan edukasi pada siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 56 Surabaya, Jumat (8/9/2023).
Dihadapan kisaran 213 siswa-siswi kelas VII SMPN 56, Dr. Sukma Sahadewa, dr.,M.Kes., SH., MH., M.Sos., CLA, memberikan wawasan dan edukasi terkait kebiasaan penggunaan tas ransel berbeban berat terhadap bentuk postur tubuh dan maklosi.
"Anak-anak penting untuk mengetahui berapa beban maksimal yang bisa dibawa ke sekolah dengan tas ranselnya," Terang Dr. Sukma.
"Kalau hal tidak benar ini dilakukan secara terus menerus, akan menyebabkan beberapa gangguan pada tubuh, seperti rasa nyeri di bagian leher punggung, bahu, pinggang, dan lutut, " Terang Dr. Sukma.
"Yang fatal adalah jika anak mengalami masalah pernapasan karena tekanan pada muskulus skeletal otot tulang, sendi, " Katanya.
Menurut wakil Dekan III FK-UWKS ini, anak juga akan mudah Lelah dan dapat mengalami masalah pencernaan, fatalnya akan menghambat pertumbuhan fisiknya.
"Jika hal ini berlaku terus menerus, akan menyebabkan kelainan postur tubuh yang akan dibawa hingga usia lanjut, " Sebutnya.
Terhadap hal ini, Dr. Sukma Sahadewa memberikan tips cara membawa tas ransel yang benar, yaitu dianjurkan menggunakan tali bahu yang empuk terutama dengan bantalan dan ukuran tali bahu lebar dan dipakai di masing-masing bahu untuk mencegah masalah bahu tidak seimbang.
Ia menganjurkan, dalam memilih tas ransel harus memiliki pengikat pada dada dan pinggang dan memiliki beberapa kompartemen agar distribusi berat tas ransel merata. Dan memilih Tas ransel yang dapat berdiri tegak saat diletakkan di lantai.
"Jangan mengisi tas ransel dengan berat lebih dari 15% berat badan tubuh," ucap Dr. Sukma wakil Dekan yang sekaligus sebagai pengajar di FK-UWKS ini.
"Angkat tas ransel dari lantai dengan cara berjongkok dan berdiri kembali jangan dengan punggung kemudian
posisikan tas ransel di bawah bahu dan di atas pinggang," tambahnya.
"Jangan lupa, setiap minggu bersihkan isi tas ransel untuk mengeluarkan benda-benda tidak diperlukan sehingga mengurangi berat tas ransel," tandasnya.
Sebagai pemateri kedua, drg. WD Parmasari, Sp.Ort. Mengenalkan lebih dalam tentang perawatan ortodonti atau gigi.
Beberapa pertanyaan kritis disampaikan oleh beberapa siswa, dan dengan senangnya mereka menerima hadiah sebagai penghargaan keberaniannya dari dokter gigi yang bernama panjang drg. Wahyuni Dyah Parmasari, Sp.Ort., ini.
Dalam paparannya, Sekretaris Ikatan Ortodontis Indonesia (IKORTI) Pengwil Jawa Timur ini menyampaikan, Perawatan Ortodonti atau gigi adalah salah satu perawatan di bidang kedokteran gigi untuk mengoreksi ketidakharmonisan tumbuh kembang gigi dan rahang atau disebut maloklusi
"Siswa SMP sebagai masa peralihan masa anak menuju Remaja, memerlukan pengetahuan dan pemeriksaan terkait maloklusi sedini mungkin, sebab dapat mempengaruhi pertumbuhan gigi berikutnya," ucap drg. Parmasari.
Maloklusi kata drg. Parmasari, adalah susunan gigi yang tidak teratur. Beberapa penyebabnya antara lain bisa dari Keturunan, cacat lahir, faktor lingkungan, kekurangan nutrisi, trauma dan kebiasaan buruk.
"Hayo, siapa yang tahu kebiasaan buruk yang menyebabkan gigi tidak teratur?" tanya drg. Parmasari, mengajak berdialog para siswa.
"Macam-macam, bisa kebiasaan bernafas dari mulut, menghisap bibir atau ibu jari. Kebiasaan menggigit kuku, juga bisa diakibatkan sering menggesek-gesekkan gigi saat tidur," katanya.
Apabila ada keluhan pada gigi, drg. Parmasari menganjurkan agar segera datang ke dokter gigi spesialis ortodonti untuk mendapatkan penanganan dan perawatan yang tepat.
"Jangan takut datang ke dokter gigi, perawatan yang lebih dini dapat meminimalkan faktor-faktor yang menyebabkan dan memperparah terjadinya susunan gigi yang tidak teratur, sehingga akan merusak gigi secara permanen," tandasnya, dan disambut tepuk tangan yang hadir.
Sementara itu, Abd. Rouf kepala sekolah SMPN 56 mengaku kegiatan pengabdian masyarakat FK-UWKS memberi banyak manfaat kepada siswa, terutama dalam hal wawasan kesehatan.
"Anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, jadi sangatlah baik jika sedini mungkin dapat wawasan tentang kesehatan," ucap Abd. Rouf yang mengaku saat ini ada 750 anak didik dari kelas VII hingga kelas IX.
"Ini yang pertama sejak saya menjabat lima bulan yang lalu. Harapannya, kerjasama seperti ini bisa berkelanjutan sehingga semakin kedepan, wawasan siswa-siswi SMPN 56 dapat terus berkembang," imbuh nya, mengakhiri. (BNW)