Kamis, 4 Juni 2026

Dampak Program Food Estate bagi Sektor Pertanian dan Lingkungan terhadap terhadap ketahanan pangan dan Perubahan Iklim di Indonesia

Photo Author
Nawi., Nawacita Post
- Kamis, 4 April 2024 | 15:29 WIB
Ilustrasi Food Estate (Istimewa)
Ilustrasi Food Estate (Istimewa)

(1) Pemilihan jenis komoditas dan spesifikasi produk fokus pada permintaan atau kebutuhan pasar dan preferensi konsumen; 

(2) Pengembangan infrastruktur disesuaikan dengan kondisi lapangan untuk mendukung kebutuhan dan kelancaran kegiatan produksi komoditas pangan; 

(3) Penataan kawasan dengan prinsip serasi, efisien, efektif, dan ramah lingkungan sehingga proses kegiatan produksi berjalan dengan lancar dan efisien; 

(4) Pemilihan dan penerapan teknologi produksi maju dan tepat guna; 

(5) Penyediaan prasarana dan sarana produksi berdasarkan prinsip tepat jenis, tepat kualitas, tepat jumlah, tepat waktu, harga ekonomis, aman dan ramah lingkungan;

(6) Pengembangan korporasi petani dalam rangka meningkatkan efisiensi produksi dan nilai tambah serta daya saing produk pangan.

Namun, seperti yang dijelaskan, proyek food estate tersebut belum dapat berjalan sesuai harapan karena berbagai kendala yang kompleks sehingga menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan. Program food estate juga dapat berpotensi menimbulkan adanya penggundulan hutan (deforestasi), yang mana dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan serta munculnya emisi gas karbon. Salah satu masalah kesehatan yang serius dari gas karbon adalah asidosis.

Berdasarkan UU No. 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, perubahan iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan, langsung atau tidak langsung, oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global serta perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.

Sementara Perubahan Iklim Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mendefinisikan perubahan iklim sebagai perubahan keadaan iklim yang dapat diidentifikasi, misalnya menggunakan uji statistik dengan perubahan rata-rata dan/atau avariabilitas sifat-sifatnya dan bertahan untuk waktu yang lama, biasanya beberapa dekade atau lebih. Perubahan iklim menurut NASA juga merupakan perubahan iklim bumi, seperti perubahan suhu bumi.

Perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap segala pekerjaan manusia salah satunya adalah sering terjadinya gagal panen. Iklim erat hubunganya dengan perubahan cuaca dan pemanasan global dapat menurunkan produksi pertanian berkisar antara 5-20%. Perubahan iklim juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang tidak stabil sebagai contoh curah hujan yang tidak menentu, sering terjadi badai, suhu udara yang ekstrim, serta arah angin yang berubah drastis.

Setiap tanaman tentunya memiliki kondisi optimal untuk dapat menghasilkan sesuatu yang diharapkan, sebagai contoh tanaman padi, tanaman padi merupakan salah satu tanaman yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan melalui food estate. Secara umum, pertumbuhan padi optimum di daerah tropis adalah pada suhu antara 20-33°C dan Intensitas cahaya optimum untuk proses fotosintesis adalah 400-1000 lux, selain itu kelembaban relatif optimum dalam pertumbuhan batang padi adalah sebesar 80-85%, sedangkan pada saat pembungaan adalah sebesar 70-80%. Perlu diingat bahwa suhu udara tinggi dapat mempercepat pertumbuhan padi dan proses respirasi, namun apabila terlalu tinggi akan meningkatkan kerusakan tanaman padi dan juga rendahnya kelembaban tanah dapat mengganggu pengambilan unsur hara dari tanah ke tumbuhan, karena air mempengaruhi keseimbangan dari sel sel tumbuhan dan berperan dalam pertukaran ion ion. Maka dari itu, terjadinya perubahan iklim tentunya akan mengganggu kondisi tanaman, dimana tanaman akan terancam mati oleh karena kondisi yang tidak optimal

Kegagalan panen merujuk pada situasi di mana hasil tanaman tidak mencapai standar yang diharapkan karena berbagai faktor seperti kerusakan tanaman, kematian, atau kerusakan yang signifikan sehingga mengakibatkan berkurangnya produksi bahkan tanaman tidak menghasilkan buah, biji, atau dedaunan sebagaimana yang diharapkan. Gagal panen secara tidak langsung mengakibatkan berkurangnya pendapatan/penghasilan para petani. Jika pendapatan berkurang maka kebutuhan pangan seseorang terlebih dahulu akan diutamakan. Hal tersebut tentu akan berdampak pada masalah ketahanan pangan.

Ketahanan pangan adalah kondisi dimana setiap orang sepanjang waktu, baik fisik maupun ekonomi, memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari sesuai preferensinya. Ketahanan pangan adalah aspek penting dari keamanan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dan membutuhkan perhatian yang serius dari pemerintah, lembaga internasional, serta masyarakat sipil untuk memastikan bahwa semua orang memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi. Ketahanan pangan sangat terkait erat dengan ketahanan sosial, stabilitas sosial, ketahanan nasional serta stabilitas ekonomi. 

Muncul beberapa pertanyaan yang membahas mengenai keefektifan atau keberlanjutan dari program Food Estate ini, salah satunya dengan pertanyaan “Apakah Benar Program Food Estate ini Gagal? Jika Tidak Bagaimana Proses untuk Melanjutkan Program Tersebut?”. Menurut Pengamat Pertanian proyek food estate pemerintah tidak memperhitungkan kondisi dan budaya lokal setempat. Indonesia dianugerahi keanekaragaman yang luar biasa. Tapi selama ini pengolahan food estate malah secara monokultur, semestinya polikultur. Dengan mempertimbangkan kondisi lahan, ekosistem setempat. Namun dalam implementasinya, proyek food estate yang selama ini telah dilaksanakan oleh pemerintah masih mengalami kegagalan.

Berbagai pihak bersatu padu dalam menyempurnakan program food estate agar ramah lingkungan. Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menjadi motor penggerak program ini dengan merumuskan dan mengawasi pelaksanaannya. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang berfokus pada isu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat turut berkontribusi dengan memberikan masukan dan membantu masyarakat lokal beradaptasi dengan program. Pakar dan akademisi pun berperan aktif dengan memberikan saran dan melakukan penelitian terkait. Sektor swasta didorong untuk berpartisipasi dalam menyediakan teknologi, infrastruktur, dan pendanaan. Media pun mengambil peran penting dalam menyebarkan informasi dan edukasi terkait program kepada masyarakat. Organisasi internasional seperti FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations) turut mendukung program ini dengan memberikan bantuan teknis dan pendanaan. Kolaborasi dan partisipasi aktif dari semua pihak ini merupakan kunci utama dalam memastikan program food estate berjalan dengan baik dan ramah lingkungan. ***

Halaman:

Editor: Nawi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini