NAWACITAPOST.COM – Osteoporosis atau tulang keropos disebut sebagai “penyakit sunyi” karena sering tidak menampakkan tanda-tanda fisik pada tahap awal. Kondisi ini membuatnya sulit dideteksi secara dini, meski dampaknya sangat serius terhadap kualitas hidup, terutama pada kelompok lansia.
Hal itu disampaikan oleh dr. Jimmy Hadi Widjaja, SpPA saat memberikan materi pada kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Edukasi Osteoporosis dan Manajemennya, Pemeliharaan Kesehatan Tulang serta Pemeriksaan Tulang Lansia” di Kantor Kelurahan Indro, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Minggu (14/9/2025).
“Osteoporosis memang sulit dikenali karena tidak selalu menunjukkan gejala. Namun ada tanda-tanda yang bisa dicurigai, seperti menurunnya tinggi badan, nyeri tulang dan otot, punggung semakin membungkuk, serta sering mengalami keretakan hingga patah tulang,” jelas dr. Jimmy.
Prevalensi Tinggi dan Perbedaan Mencolok
Ketua tim pengabdi sekaligus pemateri, Dr. Sri Lestari Utami, MKes, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh hasil pemeriksaan kepadatan tulang (Bone Mineral Density/BMD) di beberapa wilayah Sidoarjo, Gresik, dan Bangkalan yang menunjukkan angka kejadian osteoporosis sangat beragam.
“Di 13 desa di Sidoarjo dan 1 RW di Surabaya, prevalensi osteoporosis pada wanita pascamenopause mencapai 73,5%. Sementara di Gresik hasilnya bervariasi: Kedanyang 39,5%, Singosari 4%, dan Karangkiring 80%. Di Bangkalan juga terjadi perbedaan mencolok, yaitu di Pengeranan 86,3% dan Pejagan 42,9%,” ungkap Sri Lestari.
Menurutnya, perbedaan prevalensi ini memicu penelitian lanjutan untuk mengaitkan faktor risiko spesifik di setiap daerah.
Pemeriksaan BMD, Kunci Pencegahan Dini
Sekretaris Kelurahan Indro, Ary Sri Junaedhy, mengapresiasi kegiatan ini karena pemeriksaan kepadatan tulang belum pernah dilakukan di wilayahnya. “Ini sangat bermanfaat bagi warga, khususnya kalangan pralansia dan lansia. Dengan pemeriksaan ini, masyarakat jadi tahu kondisi kepadatan tulangnya,” ujarnya.
Hal senada disampaikan dr. Sianny Suryawati, SpRad, yang menegaskan pentingnya pemeriksaan massa tulang. “Kepadatan tulang mulai menurun sejak usia 30–40 tahun. Wanita premenopause dan menopause adalah kelompok paling berisiko. Pemeriksaan BMD membantu mencegah patah tulang panggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan,” terangnya.
Ia menambahkan, gaya hidup sehat tulang sangat penting, antara lain dengan konsumsi kalsium dan vitamin D, paparan sinar matahari cukup, olahraga beban, serta menghindari rokok dan alkohol. “Jika nilai BMD rendah (≤ -2,5 g/cm²), maka intervensi dengan obat perlu dilakukan,” imbuhnya.
Dukungan Perguruan Tinggi
Kegiatan ini didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), melibatkan dosen, mahasiswa, dan alumni Fakultas Kedokteran UWKS. Penyelenggara juga menyampaikan terima kasih kepada aparat Kelurahan Indro dan masyarakat setempat atas partisipasinya. ***