artikel

Dalam Laku Spiritual Suara Rakyat Dapat Dipahami Sebagai Representasi dari Suara Tuhan

Selasa, 30 Agustus 2022 | 08:55 WIB


TANGSEL, NawacitaPost.com - Kegaduhan dam kebrengsekan di negeri ini pasti masalah politik. Jika pun bergeser hanya sekitar soal ekonomi. Semua masalah itu pasti karena etika, moral dan akhlak para pelakunya yang brengsek. Maka itu terapi spiritual diperlukan untuk sekedar sedikit menahan egoistik, ambisous kemaruk dan sikap tamak hingga merasa tidak berdosa menyerobot hak orang lain. Bahkan  apa yang sudah menjadi hak orang lain dianggap untuk diterbitkan atau dirampas dengan senena- mena seperti lahan atau jabatan  serta posisi orang lain yang sedang menduduki jabatan tersebut.



Karena itu Pilpres (Prmilihan Prediden) pun meski masih lama pelaksanaannya, ancang-ancang sudah disiapkan, baliho sudah terpasang, meski dalilnya untuk sosialisasi dan penadaran bagi masyarakat tentang banyak hal yang bisa dijadikan alasan.Pokoknya, momen  pencalonan Presiden Indonesia untuk tahun 2024 sudah sejak jauh hari hingga hari ini para calon sudah tampil dengan cara diam-diam atau srmbunyi-sembunyi maupun terang- tegangan. Karens mereka  yang ngebet mau jadi Presiden itu tidak cukup dikenal oleh warga masyarakat utamanya yang ada didaerah.

Karena itu janjinya kelak kalau dapat menjadi Presiden sudah dijmbar untuk menarik simpati serta dukungan. Kendati yang dijanjikan itu tidak semuanya benar bisa dilaksanakan.

Sebab semangat untuk meraih kemenangan itu adalah yang utama. Adapun janji, toh cuma janji yang bisa diwujudkan atau tidak sana sekali dilakukan.

Semangat bertarung dalam pemilihan Presiden di Indonesia masih mengedepankan hasrat semata tanpa menimbang apa yang harus dibuat manakala bisa menang pada pemilihan. Jadi pantas atau tidak, mumpuni apa tidak tidak dianggap sebagai persoalan. Maka itu pasangan calon presiden diperlukan sosok yang banyak dikenal oleh masyarakat agar bisa mendongkrak perolehan suara. Meski kelak pasangannya duduk manis saja tanpa berbuat apa-apa.

Asumsinta, jika kemenangan bisa diraih, maka segala sesuatunya bisa diatur kemudian dengan gampang. Toh, semua fasilitas ada dan tersedia.

Jadi kegaduhan dalam masyarakat jelas disebabkan oleh pertarungan dan persetujuan politik hingga Presiden dan wakil terpilih untuk duduk di  singgasana istana Negara. Lantaran banyak pihak yang kecewa bukan saja disebabkan janji semasa kampanye tidak dipenuhi, tapi kedudukan  dari pejabat yang lama akan banyak digeser untuk diduduki oleh pejabat yang baru pula sebagai bawaan ikutan dari kemenangan pertarungan besar yang sesungguhnya tidak hanya sebatas pemilihan presiden semata. Tapi juga kabinet hingga susunan pejabat yang baru di pusat maupun di daerah.

Oleh karena itu jika ada pengamat yang mengatakan saat Pemilihan Presiden itu dana bertebaran paling tidak lima triliun rupiah, wajar saja bila sekarang uang yang mulai bertebaran itu telah dilakukan, meski masih dominan untuk persiapan saja. Misalnya dalam persiapan tim sukses, dana taktik untuk merancang program serta untuk perangkat kampanye yang sesungguhnya sudah lama dilakukan, seperti poster raksasa yang terpasang di pelosok tanah air.

Bahkan upaya untuk menguasai media massa pun sudah dianggap rampung. Maka itu sekarang giliran sosok dari calon presiden dan wakil presiden yang mau dikembangkan namanya mulai dimunculkan.

Sekarang masalah pokoknya tinggal tergantung pada rakyat. Apakah sungguh masih mau memilih calon presiden yang pro rakyat, atau mereka yang cuma mau mengutamakan diri sendiri dan kelompoknya saja. Sementara nasib rakyat kembali terpuruk dan menghina, seakan-akan harus mendapat belas kasihan.

Kalau pun pada Pilpres kali ini masih tetap menggunakan pola money politik, mungkin rakyat sudah siap hanya mengambil uangnya, tapi tidak memilih orangnya ?

Sebab untuk lebih jeli menilai calon yang berjanji manis saja-- karena munafik dan punya bakat khianat -- sungguh tidak gampang. Apalagi dengan kamuflase serta retorika yang canggih dan piawai.

Nah, Dalam kondisi dan situasi serupa inilah peran laku spiritual dengan selalu memohon petunjuk dan bimbingan Tuhan Yang Maha Esa untuk ditunjukkan calon pemimpin yang baik dan terbaik untuk diri kita dan rakyat banyak, yang amanah dan konsisten mewujudkan kehendak rakyat sebagai pemilik sah negeri ini. Karena pemimpin yang baik dan benar itu mau mendengarkan suara rakyat sebagai representasi dari suara Tuhan.

Sumber: Jacob Ereste
Tangerang Selatan, 29 Agustus 2022





Tags

Terkini