teknologi

Ir. Bambang Suratno: AI Bukan Solusi Segala Masalah Tanpa Pemahaman Proses yang Tepat

Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:24 WIB

NAWACITAPOST, SIDOARJO — Pakar industri dari Universitas Islam Indonesia, Ir. Bambang Suratno, S.T., M.T., Ph.D., IPM., menegaskan bahwa kecerdasan buatan atau AI bukanlah obat mujarab yang dapat menyelesaikan semua masalah secara otomatis. Beliau menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Program Studi Teknik Industri Universitas Ma'arif Hasyim Latif (UMAHA), baru-baru ini.

Ir. Bambang menjelaskan bahwa banyak pihak kini terburu-buru menerapkan teknologi canggih tanpa terlebih dahulu memahami alur kerja yang ada.

Padahal, teknologi yang dipaksakan pada proses yang belum jelas permasalahannya justru akan memperburuk situasi. "AI adalah alat bantu yang hebat, tetapi alat yang tepat tetap harus digunakan pada masalah yang tepat pula," ujarnya di hadapan mahasiswa.

Beliau menekankan langkah awal yang harus dilakukan perusahaan adalah memetakan proses bisnis secara menyeluruh. Perusahaan mengidentifikasi siapa yang melakukan apa, di mana kendala berada, dan di mana titik lemah sistem berada.

Hanya setelah masalah teridentifikasi dengan jelas, pemimpin organisasi menentukan solusi terbaik, baik itu berupa perbaikan proses maupun penerapan teknologi.

Pakar tersebut juga mengingatkan bahwa AI hanya mengolah data yang diberikan kepadanya. Jika data yang masuk tidak akurat atau proses dasarnya bermasalah, hasil yang dihasilkan sistem pun tidak akan berguna. "Sampah masuk, sampah keluar. Prinsip ini tetap berlaku meskipun kita menggunakan teknologi paling canggih sekalipun," tegasnya.

Materi kuliah tamu juga menyoroti pentingnya pendekatan Business Process Management (BPM) sebelum transformasi digital dilakukan.

BPM membantu organisasi memahami, menyederhanakan, dan menyempurnakan proses sebelum teknologi diterapkan. Dengan kata lain, perusahaan memperbaiki rumah terlebih dahulu sebelum menyusun perabot di dalamnya.

Ir. Bambang juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menggantungkan seluruh keputusan kepada mesin. AI memang mempercepat analisis data dan memberikan rekomendasi, namun manusia tetap memegang kendali akhir.

Pertimbangan etika, keamanan data, dan dampak sosial tetap menjadi ranah tanggung jawab manusia yang tidak dapat diserahkan kepada algoritma.

Mahasiswa Teknik Industri UMAHA menyambut baik wawasan baru tersebut. Mereka menyadari bahwa keahlian teknis saja tidak cukup.

Seorang insinyur industri yang handal mampu melihat gambaran besar, memahami sistem secara menyeluruh, dan memilih solusi yang paling tepat sasaran, bukan sekadar yang paling modern.

Pada akhirnya, Ir. Bambang menegaskan bahwa teknologi akan selalu berkembang, namun prinsip memahami masalah sebelum mencari solusi tidak akan pernah berubah.

Mahasiswa pun diharapkan membawa pola pikir ini ke dunia kerja, sehingga mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang cakap, tetapi juga pemimpin masa depan yang bijaksana. ***

Tags

Terkini