NAWACITAPOST.COM - Saham Tesla, produsen mobil listrik yang dipimpin oleh CEO kontroversial Elon Musk, merosot lebih dari 12% pada Kamis (25/1).
Penyebabnya adalah pernyataan terbuka Musk mengenai proyeksi bisnis tahun ini, di mana ia memprediksi pertumbuhan penjualan akan melambat meski perusahaan melancarkan strategi pemotongan harga.
Elon Musk bahkan menyebut diskon yang diberikan oleh Tesla telah merugikan margin perusahaan, memicu kekhawatiran investor terkait penurunan permintaan dan persaingan yang semakin ketat di China.
Baca Juga: Usung Layar AMOLED, Vivo akan Luncurkan Y100 5G. Ini fitur Canggih lainnya!
Dalam upayanya untuk mengatasi penurunan ini, Musk mengumumkan rencana untuk mengembangkan mobil listrik (EV) yang lebih terjangkau di masa depan.
Meskipun menyampaikan strategi baru, Musk mengakui adanya tantangan dalam memproduksi mobil model baru tersebut. Hal ini disebabkan perusahaan membutuhkan teknologi terbaru yang lebih canggih untuk merealisasikannya.
Dampak dari pernyataan Musk tidak hanya terbatas pada penurunan saham saja. Saham Tesla mengalami persentase kerugian intraday paling tajam dalam lebih dari setahun, dengan nilai pasar terhapus sebesar $80 miliar (Rp 1.266 triliun) pada hari Kamis kemarin.
Baca Juga: Apple Vision Pro Siap Meluncur, Pengganti iPhone dengan Teknologi Terkini
Analis TD Cowen menyatakan bahwa Tesla kini memasuki fase yang lebih sulit, dengan pendapatan dan keuntungan pada kuartal keempat tahun 2023 di bawah ekspektasi pasar.
Tidak hanya Tesla, tetapi industri mobil listrik secara keseluruhan juga mengalami penurunan. Saham produsen EV lainnya, seperti Rivian Automotive, Lucid Group, dan Fisker, juga terpantau turun.
Industri mobil listrik telah mengalami perlambatan selama lebih dari satu tahun terakhir, dan diskon yang diberikan oleh Tesla diperkirakan akan memberikan tekanan tambahan pada startup dan produsen mobil listrik lainnya.
Baca Juga: Hanya Rp 2 Jutaan! Ini Fitur HP Samsung Galaxy A15
"Masalahnya bagi Tesla adalah setiap upaya signifikan untuk meningkatkan penjualan mulai saat ini mungkin perlu dicapai dengan mengorbankan margin operasi yang makin turun, karena harus bersaing dengan BYD di China, serta meningkatnya persaingan di tempat lain," ungkap Michael Hewson, kepala analis pasar di CMC Markets. ***
Artikel Terkait
Guru Besar ITS, Prof Bambang Sudarmanta, Wujudkan Transportasi Berkelanjutan melalui Bioenergi Inovatif
Poco X6 dan X6 Pro Bersiap Rilis di Indonesia, Berikut Rincian Harga dan Spesifikasinya
Spesifikasi Samsung Galaxy A15 dan Galaxy A15 5G, Apa saja sih Bedanya?
Hanya Rp 2 Jutaan! Ini Fitur HP Samsung Galaxy A15
Apple Vision Pro Siap Meluncur, Pengganti iPhone dengan Teknologi Terkini
Usung Layar AMOLED, Vivo akan Luncurkan Y100 5G. Ini fitur Canggih lainnya!