NAWACITApost.com - Sebelum adanya Forum Satu Tekad Ono Niha untuk Caleg Dapil Sumut II lolos ke DPR RI. Arisman Zagoto biasa dipanggil Ama Rai sudah kerap berhubungan dengan begitu banyak grup WhatsApp yang mengarah kearah tersebut.
Menurut Arisman Zagoto, Anggota DPR RI dari Partai Damai Sejahtera periode 2009-2014, bahwa riuhnya pendapat dan keinginan untuk mengusung Calon DPR Ono Niha ke Senayan, sepertinya tidak kalah dengan genderang Pemilu yang sudah didepan mata.
Sehingga, masyarakat Nias coba beropini melalui grup-grup medsos dan kelompok organisasi secara sporadis dan saling meninggi dengan dominasi pemikiran masing-masing yang paling tepat, jelasnya.
Sayang, ibarat permainan tinju. Jika tidak ada yang mengcounter part dan aturan main yang berlaku serta bisa meng-akomodir dan menghitung jab-jab yang layak. Maka tidak akan terarah, dan tidak menemukan momen untuk dinyatakan layak tarung bahkan layak menang.
Demikian juga berlaku juga dengan animo dan komunikasi masyarakat Nias yang terbangun tentang caleg DPR Ono Niha, yang butuh kanalisasi pendapat, ide secara terarah, santun, berkualitas serta efektif menghasilkan solusi bagi kemajuan Nias, ujarnya.
“Maka, adanya gagasan pembentukan Forum Satu Tekad Ono Niha yang digagas salah satu tokoh Kepulauan Nias, Faigiziduhu Ndruru merupakan satu tawaran yang tersistem dan terarah untuk mengerucutkan pendapat sehingga pada saatnya mudah dicerna dan disepakati sebagai satu bentuk Rekomendasi yang telah terfilter dengan baik disamping juga turut meng-akomodir barbagai pendapat yang fariative bersumber dari perorangan, tokoh dan organisasi,” urainya.
Memang Forum Satu Tekad Ono Niha tidak serta merta sempurna, tetapi paling tidak mampu menghadirkan satu rujukan yang mengajak kita memperluas wawasan, memperbanyak literasi, memperlebar spektrum cara pandang agar tidak terjebak pada pemikiran atas kepentingan yang sempit sehingga dapat menerima perbedaan, tandasnya.
Sehingga, tidak dapat dipungkiri bahwa masing-masing kita terikat pada ideologi partai. Namun hal itu, seyogyanya dapat kita kesampingkan atau tanggalkan dengan memberi perhatian secara proporsional diluar level DPR sembari fokus mendorong tekad perjuangan akan kehadiran putra-puteri Nias, sebagaimana pernah terjadi tiga (3) orang sekaligus dalam satu periode.
Maka, mari kita nyalakan api perjuangan dengan mengusung falsafah Nias yang mengatakan LÖ SENDORO SITENGA KHÖNIA, dan tanö miraya disebut HOWU NONOGU, EBUA DÖDÖGU KHÖGU yang maknanya kurang lebih sama, pungkasnya.