Surabaya NAWACITAPOST - Dyah Katarina Anggota DPRD Surabaya, menjaring aspirasi masyarakat lewat Jajaran pengurus PAC, Ranting dan Anak Ranting PDI Perjuangan se-kecamatan Sawahan, Rabu 1 Februari 2023.
Penjaringan Aspirasi ini sekaligus dijadikan sarana koordinasi, merapatkan barisan dan menyamakan ideologi di saat tahun politik yang sudah mulai berjalan.
Selain Dyah Katarina, dihadirkan pula Taro Sasmita, Bendahara DPC PDI Perjuangan kota Surabaya, sebagai narasumber.
Didominasi warna merah menyalah, acara yang digelar di Pakis Tirtosari ini dibuka sambutan dari Iwan Chandra ketua PAC PDIP Sukomanunggal.
Pada kesempatan itu, Dyah Katarina mengatakan bahwa, sebenarnya aspirasi para kader struktural tidak hanya disampaikan melalui agenda reses.
"Setiap waktu, setiap saat, apa yang menjadi aspirasi warga melalui para Kader, sudah disampaikan. Dan itu sudah masuk POKIR Dewan, tinggal menunggu realisasinya," ungkap Dyah yang juga merupakan dewan penasehat PAC Sawahan ini.
"Itulah fungsi kita di Partai, yaitu bekerja untuk rakyat, tidak perlu menunggu masa reses," katanya.
Selain di Partai, masih kata Dyah, kader juga banyak di kepengurusan kampung sehingga dapat memberikan aspirasi masyarakat saat Musrenbang.
"Semoga acara ini dapat memberi wawasan sekaligus penyemangat kerja-kerja politik para Kader PDIP di wilayah kecamatan Sawahan," tutupnya.
Tiba di acara inti, Taro Sasmita memaparkan bagaimana menjadi politikus yang baik dan penguatan Ideologi berdasar Pancasila.
Diawal, Taro menceritakan sejarah berdirinya PDI hingga kemunculan nama PDI Perjuangan pasca Reformasi 1998. Perjuangan tak henti hingga saat ini menjadi partai Modern.
"Saya bangga berkumpul disini untuk bersama-sama memperjuangan cita-cita Bung Kanro sebagai panutan kita," ungkap Taro mengawali paparannya.
"Saat ini, Target kita adalah mencetak Hattrik, atau kemenangan 3 kali beruntun," ucapnya.
Untuk meraih hal itu, papar Taro, kader harus memiliki dasar 5 mantap. Yang pertama adalah Mantap Ideologi.
"Ideologi kita adalah ideologi Pancasila mulai dari sila pertama Ketuhanan yang maha Esa, yang berarti bagaimana kita melakukan penghormatan atau toleransi terhadap semua pemeluk agama," paparnya.
Khusus untuk politikus, menurut Taro harus betul-betul memahami sila keempat. "Masalah keilmuan, bagi politikus adalah hal berikutnya. Yang utama adalah bagaimana kita dapat bijaksana bermusyawarah mufakat dalam pengambilan keputusan di setiap permasalahan," katanya.
Mantap Ideologi juga memberikan kekuatan kepada kita dalam menangkal ideologi Neo imperialisme dan Neo Kapitalisme gaya baru, yang saat ini berusaha menggerogoti bangsa.
Seperti faham Khilafah dan Hedonisme yang berupaya merubah generasi ini untuk menjadi orang yang mementingkan diri sendiri, segala sesuatu diukur dengan materi, dan akhirnya kehilangan sifat gotong royong.
"Oleh sebab itu kita sebagai kader partai, punya komitmen menjaga NKRI Pancasila Bhinneka Tunggal Ika dan undang-undang Dasar 45," ajaknya.
Kemudian yang kedua adalah Mantap Organisasi yang mewajibkan seorang kader untuk selalu siap berkoordinasi dan konsolidasi demi penguatan basis.
"Saat ini berbeda dengan era Orde baru, undang-undang politik tahun 1973 sangat membatasi organisasi. Rapat-rapat ditengah ketakutan, acara sunatan anak kader dijadikan tempat rapat supaya tidak digrebek Babinsa," ceritanya.
Taro menerangkan, dalam menerapkan Mantap Organisasi PDIP selalu melakukan rapat-rapat secara berkala. Dari Rakernas, Rakerda, disusul dengan Rakercab, Rakerancab, hingga Raker ranting.
Berikutnya adalah Mantap Kader. Dalam mencetak kader yang punya loyalitas dan integritas yang tinggi, PDI Perjuangan punya sekolah partai berjenjang.
"Di Sekolah Partai ini calon pengurus Partai, calon anggota legislatif, dan calon kepala daerah-calon wakil kepala daerah digembleng agar memiliki kesadaran ideologis berdasarkan Pancasila, dapat mengambil inti sari sejarah kemerdekaan bangsa, dan memiliki spirit untuk membawa kemajuan dan kejayaan bangsa Indonesia," kata dia.
"Terlebih memahami hakekat politik untuk turun ke bawah dan berpihak pada wong cilik," sambung Taro.
Yang keempat adalah Mantap Program. "Sebenarnya mulai dari DPD hingga ranting tugasnya sama, yaitu membuat program untuk penguatan basis. Yang membedakan adalah teritorialnya," ucap Taro.
Ditngkat anak ranting pun bisa membuat program, seperti kerja bakti massal dan sebagainya. "Tapi ingat, harus dilakukan dengan gerakan," kata dia.
"Gerakan seperti apa? Libatkan para tokoh, Pak RT dan pak RW, lakukan rekrutmen. Jadikan mereka panitia. Lek sing nglakoni kader kabeh, iku jenenge mbujuk (Kalau kader yang mengerjakan semuanya, itu berarti bohong, red), " ketus Taro dengan logat Jawanya.
"Awalnya masyarakat simpati namanya simpatisan, terus kita libatkan dalam setiap kegiatan namanya menjadi aktivis dan seterusnya hingga masuk menjadi kader.
Itu namanya konteks gerakan, harus berstrategi," ungkap dia.
Kader, lanjut Taro harus mengenal dan mengidentifikasi wilayahnya. Mengenal siapa kawan dan siapa lawan. "Itu yang saya maksudkan dengan kerja-kerja politik," tegas Taro.
"Berpihak kepada kepentingan rakyat, juga termasuk membangun citra partai," sambungnya.
Yang terakhir, lanjut Taro adalah Mantap Sumber daya manusia. "Sumber daya manusia itu penting. Tanpa sumber daya manusia yang mendukung, maka kaderisasi dan organisasi tidak akan bisa berjalan dengan baik," tuturnya.
"Bu Mega (Megawati Sukarnoputri, red) mewanti-wanti di hari ulang tahun PDIP yang ke-50, agar para tidak perlu berpikir apa-apa, yang penting kan kerja kerja kerja," kata Taro mengingatkan.
Taro berharap, pedoman 5 mantap ini dapat dijalankan setiap kader. "Tujuan kita yang utama adalah sebagai alat perjuangan rakyat, kalau 5 mantap sudah dilakukan, maka kita punya peluang besar meraih Hattrick kemenangan pada pemilu 2024," tandas Taro mengakhiri paparannya. (BNW)