#Pemerhati Demokrasi Nusantara, Agustus Gea
Jakarta, NAWACITAPOST.COM - Ketika Partai Nasdem mendeklarasikan Anies Baswedan menjadi Calon Presiden pada Pemilu tahun 2024, Partai Nasdem berharap elektabilitas partainya akan terdongkrak. Demikian juga dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mendeklarasikan Ganjar Pranowo pasti berharap elektabilitas PSI juga akan terdongkrak.
Baca Juga : Pembina FPDK Agustus Gea : Pemilu Serentak, Tak Boleh Mengabaikan Pemilihan Kepala Desa Sesuai Batas Waktu Periode
Apakah harapan Partai Nasdem dan PSI tersebut mungkinkah terwujud?
-
Menurut saya jawabannya bisa ia, bisa tidak. Bahkan bisa terjadi,sebaiknya kita biarkan waktu yang akan menjawabnya.
Tetapi terlepas dari hal tersebut diatas paling tidak ada beberapa hal yang menjadi catatan kami sebagai pengaruh dari kedua peristiwa politik tersebut yaitu :
Pertama Membuat Partai-partai yang lain dan masyarakat terbelah dua (2), ada memberi pujian dan ada yang memberi celaan. Kepada Partai NasDem semua tertawa dan mencibir, kok bisa-bisanya ditengah suasana duka, karena tragedi Kanjuruhan Partai NasDem mendeklarasikan Capresnya yang nota bene Anies Baswedan yang masih sebagai Gubernur DKI Jakarta sampai dengan pertengahan Oktober 2022 dan Partai NasDem sendiri juga masih terikat dengan Pemerintahan Jokowi-Maruf Amin sampai akhir 2024.
Dan kepada PSI walaupun tidak memiliki anggota di DPR RI karena suaranya kurang 4 persen masyarakat mengacungkan jempol karena berani mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai Capresnya padahal Ganjar Pranowo belum tentu diusung oleh partainya sendiri (PDI-P). Karena dengan langkah PSI yang berani ini, justru mempunyai dampak kepada PDI-P untuk mengkaji ulang Capresnya.
Kedua Menyadarkan semua Partai pendukung pemerintahan Jokowi dan Maruf Amin, agar seharusnya selalu bersikap konsisten mendukung Pemerintah sampai berakhir tahun 2024.
Ketiga Menyadarkan PDI-P khususnya bahwa Ganjar Pranowo rupanya memiliki elektabilitas yang lebih baik dari Puan Maharani (walaupun sesungguhnya hal tersebut petinggi PDI-P juga tahu), dan juga memberi sinyal untuk memikirkan ulang agar Capresnya harus yang memiliki elektabilitas tinggi seperti Ganjar Pranowo, dan tidak memaksakan untuk mengusung Puan Maharani hanya karena memiliki hubungan emosional dengan Ketua Umum PDI-P atau Bapak Pendiri Bangsa Presiden RI Pertama (Ir. Soekarno).
Semoga Partai-partai yang lain dan masyarakat menjadi lebih tercerahkan dengan peristiwa-peristiwa politik menjelang tahun 2024 yang semakin memanas.