Jakarta, NAWACITAPOST.COM – Banyak tokoh dan pemimpin di luar Jokowi yang mungkin berani menyatakan dengan perkataan saja, tentang paham anti Pancasila, seperti intoleren, radikalisme, dan khilafah adalah musuh bangsa Indonesia. Namun, ketika kelompok-kelompok itu mencabik-cabik sendi-sendi kemajemukan berbangsa dan bernegara di Indonesia, mereka tak berani melakukan perlawanan untuk membubarkan kelompok tersebut. Padahal mereka punya power sebagai pengambil keputusan buat negara.
Baca Juga : Helldy: Kedepan, Masuk Rumah Sakit Hanya Perlu Menggunakan KTP
Namun, lain dengan sosok dan sikap Jenderal yang beristrikan Rahma Setyaningsih, dimana dalam rentang satu tahun, sejak November 2020 masih berpangkat Jenderal bintang dua, pertengahan tahun 2021 menyandang pangkat Letnan Jenderal alias bintang 3, hingga akhir tahun 2021 lengkap sebagai Jenderal berbintang 4. Prestasi diraihnya itu bukan tanpa sebab.
Nopember 2020, lulusan Akmil 1988 ini, bukan hanya berkata FPI telah mengganggu ketentraman dan ketertiban warga Jakarta, tegas Dudung saat masih sebagai Pangdam Jaya, yang berani dan berhasil menurunkan dan merobek poster FPI dan Rizieq Shihab disepanjang jalan di kawasan Jakarta, dan sekitarnya.
Tak sampai disitu, ayah dari Nadine Aqmarina Setyaningsih, Nina Bonita Hasanah, dan Mohammad Akbar Abdurachman
Dudung dengan suara lantang dan tegas berani menyatakan Ormas FPI yang mengganggu keamanan negara dibubarkan saja.
Ternyata, walaupun Dudung kini menjabat KSAD. Kelompok perawat kebencian itu terus melakukan upaya memecah belah sesame anak bangsa. Bahkan secara terang-terangan menunjukan eksistensinya dengan konvoi kendaraan bermotor bertuliskan kebangkitan khilfah, dan konvoi itu diduga untuk menghadiri HUT ke -20 sebuah partai politik di Stadion Gelora Bung Karno, Minggu 29 Mei 2022.
Kelompok yang suka menghalalkan darah orang yang tak sepaham, dan kerap mengkafirkan agama lain in, akan terus ada berkembang mendekati tahun-tahun politik. Apalagi pemilu serentak yang disertai Pileg, Pilkada dan Pilpres di tahun 2024, pasti membutuhkan suara dan dukungan masif yang aktif dan militan bergerak.
Kelompok perongrong negara ini jelas mendekati tahun politik, ada yang memeliharanya, baik perorangan, kelompok, mungkin juga parpol
Terkait kelompok khilafah, maka sangat perlu disyaratkan kepada Capres mendatang, harus berani membubarkan kelompok-kelompok tersebut.
Yang tepat menjawab masyarakat majemuk Indonesia, dan mau menandatangani syarat itu, serta melaksanakannya adalah Jenderal Dudung Abdurachman.