politik

Pasca Pilkada 2018, Sumut Sarang Teroris?    

Senin, 20 Desember 2021 | 15:03 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST.COM - Tahun 2021, kalau tidak salah sudah dua (2) kali atau mungkin lebih, daerah Sumatera Utara menjadi ladang penangkapan para teroris. Kali ini, sembilan (9) teroris berhasil ditangkap Tim Densus 88, pada pertengahan Desember 2021.

Baca Juga : Densus 88 Amankan Terduga Teroris Di Sumut Yang Menyamar Sebagai Petugas Kotak Amal 


Teroris yang ditangkap itu, punya peran berbeda-beda. Mulai sebagai pembina yayasan, amal zakat, pendidikan dan kaderisasi, penghubung serta mengamankan daftar pencarian orang (DPO), jelas Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Polri, Kombes Pol Ahmad Ramadhan kepada warta belum lama berselang.

Baca Juga : Kepulauan Nias Sarang Teroris? Dua Wilayah Ini Diduga Kuat Jadi Tempat Latihannya


Dipikirnya dengan mendirikan yayasan berbalut agama, dianggap cocok untuk menghindar dari jangkauan aparat. Bahkan, Tim Densus 88 perlu cukup waktu untuk mengendus keberadaan yayasan berjubah agama tersebut. Dan, benar-benar mereka melakukan perannya sebagai bagian dari terorisme.

Yayasan tersebut merupakan tempat persembunyian, penyusupan dan boleh dikatakan menyusun rencana aksi keji para kelompok tersebut.

Entah ada hubungan atau tidak. Pasca Pilkada Sumut 2018, dengan kemenangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (ERAMAS) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur, yang didukung PKS dll.

Ditambah masifnya saat Pilkada 2018. Juru kampanye yang boleh disebut anti Jokowi.  Seperti Amien Rais, Abdul Somad, Teungku Zulkarnain dan beberapa orang lainnya, berperan dalam memenangkan Edy Rahmayadi. Menjadikan intoleren dan radikalisme tumbuh subur di provinsi tersebut?

Kemudian Pasca Pilkada 2018, dan terpilihnya Edy Rahmayadi jadi Gubernur Sumut. Ada banyak hal kontroversial kebijkan yang dilakukan orang nomor satu Sumut. Sebut saja penerapan wisata halal danau toba, melontarkan pernyataan tak sedap ke salah satu Bupati di Provinsi Sumut, diduga tak mau berbagai pajak penghasilan dengan Pemkot Medan, dan paling anyar pernyataan Ketua Umum MUI Sumut H Maratua Simanjuntak yang melarang mengucapkan selamat Natal.

Dengan atribut melekat dan keputusan kontroversial yang dibuat oleh pemimpin tersebut. Seakan itu dimaknai sebagai lahan subur bagi  para kelompok intoleren yang bakal menjadi bibit dan aksi radikalisme, di wilayah ujung Sumatera sebelum Aceh itu, diduga menjadi  sarang teroris?

Termasuk daerah Kepulauan Nias (Kepni) yang bagian dari wilayah Sumut. Bukan hanya  tempat persinggahan, melainkan telah menjadi tempat persembunyian kelompok-kelompok intoleren dan radikalisme merancang, merencanakan dan melakukan aksinya.

 

 

 

 

 

 

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB