Jakarta, NAWACITAPOST.COM - Masih terjadi kemelut kasus hukum di tingkat Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tata Usaha Negara antara Demokrat SBY dan Demokrat KLB Deli Serdang atau biasa dengan sebutan Demokrat Moeldoko, membuat AHY sebagai Ketua Umum dan jajarannya tak bisa bergerak ke arah yang lebih maju, yaitu Konsolidasi. Yang ada malah harus berkutat dengan masalah interen yang menderanya.
Mulai dari masalah hasil kongres Demokrat yang menetapkan AHY sebagai Ketum, sampai berimbas kepada AD/ART dan pendirian Partai Demokrat yang dimutasi menjadi dua (2) orang. SBY dan alm Vence Rumangkang.
Belum selesai masalah tersebut. Kehadiran Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) seakan membuat masalah semakin menumpuk. Apa sebab? PKN ini adalah tempat berkumpulnya eks loyalis Anas Urbaningrum (AU) bergabung. Sepertinya PKN ini juga mempersiapkan karpet merah buat AU (bebas tahun 2022) untuk berkiprah di partai baru ini. Tentu kepemimpinannya bukan oleh AU tetapi sahabat kentalnya, Gede Pasek Suardika.
Memang PKN belum didaftarkan ke Kemenkumham dan KPU. Masih konsolidasi sembari membuka cabang di seluruh Indonesia. Rasanya dengan jejaring AU yang terkenal gebrakannya saat di HMI dan eks Ketum Demokrat. Tak sulit untuk menambah pengurus baru di tiap daerah. Kabarnya sudah ada yang antri di berbagai daerah untuk meminta jadi bagian dan pengurus PKN.
Bisa jadi yang antri itu. Mungkin pernah dikecewakan oleh kepemimpinan SBY dan AHY di Demokrat. Atau bisa juga yang masih aktif di kepengurusan partai. Tetapi selalu dimarginalkan oleh SBY dan AHY.
Yang jelas, kehadiran PKN bukan mengobati SBY. Malah justru mengurangi suara Demokrat Cikeas di 2024 semakin terpuruk. Dimana selama 3 tahun mendatang, dihitung tahun 2021 tak beranjak melangkah. Malah mengurusi masalah yang dideranya.
Dibilang hancur, belum. Tepatnya hanya meramaikan pesta demokrassi 2024.