Baca Juga : Pertemuan PDIP dan Gerindra : Sinyal Jokowi – Prabowo 2024, Taliban Indonesia Ketakutan
Sebelumnya, Prabowo ikut konvensi Partai Golkar, gagal. Ibarat pepatah, kegagalan itu sukses tertunda. 6 Februari 2008 Gerindra lahir dan terbentuk, ikut Pileg 2009 mendapat 26 kursi parlemen Senayan, Pileg 2014 mendapatkan 73, dan 2019 memperoleh 83.
Yang menarik, saat Pilpres 2019 jagoan Gerindra, Prabowo berpasangan dengan Sandiaga Uno kalah dari pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin. Namun, berkat kecerdasan dan kepiawaian Jokowi menarik ayah Didit Hediprasetyo masuk gerbong kabinetnya sebagai Menteri Pertahananan (Menhan).
Dimasukannya Prabowo dalam kabinet, perlahan demi perlahan serangan ke Jokowi memudar dan kini padam. Bahkan, dalam undangan ketua Umum Parpol Koalisi, pada akhir Agustus 2021, Prabowo sebagai Ketum Gerindra memuji kepemimpinan Jokowi dihadapan Ketum : PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, PPP, dan koalisi baru PAN.
Kembali ke Prabowo dalam jejak langkahnya di Pilpres. 2024 kemungkinan Prabowo ikut perhelatan pilpres untuk ke empat kalinya. Dengan usia 73 tahun, dan 20 tahun bertarung diajang Pilpres sejak 2009, mungkin ini kesempatan terakhir ia berlaga dalam ajang tersebut.
Memang Jokowi secara UUD 1945 pasal 7 tentang presiden dua periode, tak boleh berlaga lagi di 2004. Tapi, wacana Pokok-pokok Haluan Negara(PPHN) yang diusulkan Ketua MPR Bambang Soesatyo diucapkan di sidang kenegaraan 16 Agustus 2021. Itu pertanda sinyal-sinyal ke arah duet itu harapannya terlaksana.
Ada yang mengatakan PPHN jangan melebar atau menyentuh ke pasal 7 UUD 1945. Tetapi diluaran gedung parlemen, komunitas yang menginginkan duet Jokowi - Prabowo terus bergema dan bersenandung. Jok Pro (Jokowi Prabowo) yang digawangi M Qodari sudah beberapa bulan lalu mendeklarasikan duet Jok Pro di 2024.
Paling anyar, kelompok-kelompok yang dulu mendukung Jokowi mulai bersiap-siap mengagendakan Munas atau Kongres. Entah itu ada kaitannya dengan duet Jokowi Prabowo atau sebagai kelompok yang pernah ada. Sebut saja Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) yang akan mengadakan Kongres Luar Biasa BaraJP 2021 dengan Tema BaraJP: Satu Sikap - Satu Komando. Setia Hingga Akhir di Garis Jokowi dengan Sub Tema: BaraJP: Kembali Pada Marwah, Kembali Pada Garis Juang.
ketika media menanyakan ke M Qodari sebagai penggagas Jok Pro, bahwa Jokowi telah menolak untuk presiden periode ke tiga. Dengan santainya, Qodari menjawab, bahwa Jawaban Jokowi itu betul dan tepat, karena pasal 7 UUD 1945 belum diamandemen, jika sudah diamandemen maka dalam politik segala sesuatunya penuh kejutan.
Jika mungkin ini terjadi pada Pilpres 2024, Prabowo benar-benar dipilih rakyat Indonesia (jika menang Pilpres nanti) menjadi Wapres ke-16. Dan, Jokowi yang meyakinkannya ke Prabowo. Kenapa, Prabowo mau jadi pendamping Jokowi? Prabowo tahu bahwa Jokowi adalah pemimpin yang sungguh-sungguh membela rakyat.
Bagi Jokowi, dipilihnya Prabowo sebagai pendampingnya. Maka akan menjadikan Indonesia kekuatan yang disegani di kawasan Asia Tenggara dan dunia, dari bidang pertahanan dan pangan.
Hal lainnya, jika Prabowo dibiarkan dan keluar dari rangkulan Jokowi, maka Prabowo bisa dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang tak bertanggung jawab. Bisa-bisa yang selama ini infrastruktur di bangun Jokowi akan terkubur, dan tidurnya kelompok radikalisme, bisa- bsia akan bangkit lagi.