Jakarta, NAWACITAPOST- Pilpres 2024 masih tiga tahun lagi. Sejumlah nama kandidat tengah di survei dari waktu ke waktu.
Hasilnya, respon masyarakat pun beragam. Ada yg antusiasme dengan figur idolanya masuk tiga besar. Ada pula sejumlah aneka wajah-wajah baru memiliki kans memimpin Indonesia ke depan. Bahkan, ada yg ingin menambahkan periodisasi kepada presiden saat ini. Apapun alasan dan kehendak publik, itu sah-sah saja di alam demokrasi.
Setidaknya, dari nama-nama kandidat presiden tersebut, masyarakat perlu tahu kedalaman sosok figur yg ditawarkan.
Jangan ada kata " too good to be true", atau calon nampak keren berkat branding semata dan gimmick nya sangat memikat. Tapi kenyataannya banyak meninggalkan luka,” kata Dr. Yudi Pirngadi ketum Relawan ETOeS ( Erick Tohir Oentuk Semua) kepada NAWACITAPOST, Jumat (17/9/2021).
“Ini yg harus diwaspadai. Teknologi digital dan budaya pop telah membentuk cakrawala baru di era globalisasi. Tak heran, nuansa imajinasi seseorang, atau sekelompok mempengaruhi persepsi dan opini publik. Deskripsi tugas semakin tak jelas. Misalnya, pemegang jabatan bisa melakukan tugas lain, sedangkan tugasnya sendiri dikerjakan orang lain,” ujarnya.
Ironisnya lagi, kata dia, pernah ada seorang melakukan playing victim meretas iba. Walhasil ia pun berhasil merebut kursi orang nomor satu dengan biaya murah meriah. Padahal itu, fatamorgana.
Jangan Terbius Bujuk Rayu
“Kini dan esok, masyarakat tidak boleh terbius bujuk rayu. Masyarakat harus tahu, secara lebih transparan tentang idolanya. Rekam jejak dan kemewahan personalitas seorang calon. Bukan tahu dari bisik-bisik tetangga, apalagi biusan banalitas elit politik,” ucapnya.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana memilih pemimpin yg baik? Pertama, seorang kandidat presiden harus memiliki visi Indonesia ke depan seperti apa gagasannya. Begitu pula,tahu denyut jantungnya masyarakat. Bahkan, paham mengelola ikatan keberagaman sejati dalam bingkai persatuan.
Yudi juga menjelaskan, bahwa tak cuma itu, seorang calon memiliki kemewahan-kemewahan berfikir dan bertindak dalam mengeksekusi kebijakan untuk kepentingan bangsa dan negara.
Ambil saja contoh, ketika Indonesia dan dunia tengah dilanda Pandemi Covid 19, ada seorang pembantu presiden yg mampu menerjemahkan kebijakan atasannya dengan baik melalui program vaksin. Program
Itu tidak saja memberi solusi cerdas terhadap kesehatan masyarakat, tetapi ia pun mampu mengurai carut-marut perekonomian nasional akibat Pandemi.
Duet Maut Erick - Andika
Ternyata, kerja keras Erick Tohir dan Andika Perkasa yang ditugaskan presiden Jokowi patut diacungkan jempol. Perlahan namun pasti pemulihkan perekonomian Indonesia berangsur membaik.
Selain itu, Kata dia, sosok profesionalitas dibidangnya masing-masing diabdikan untuk kepentingan bangsa dan negara. Jangan seperti calon lain, baru diterpa isu berkunjung ke Barobudur haram, lalu panik Gubernurnya. Minta tolong MUI, minta legitimasi Ormas Islam terbesar di Indonesia. Bagaimana mau mimpin Indonesia!Disinilah kemewahan personalitas berfikir dan bertindak dalam mengeksekusi kebijakan dipertaruhkan.
Dalam relasi ini, tidak berlebihan membangun Indonesia dibutuhkan duet maut yg bisa memberi solusi, bukan minta advokasi. Perlu kiranya disandingkan paslon Erick - Andika dalam pilpres 2024 merupakan pilihan cerdas.
Menurut Yudi, keduanya mampu memberikan harapan baru(new hope) untuk Indonesia 2024. Terbukti, dari dedikasi, integritas dan profesionalitasnya sangat mumpuni. Rendah konflik dan mampu membaca denyut jantung masyarakat, dan mendapat tempat dihati rakyat.
“Dipundaknya, jika Erick - Andika, dipercayakan dan menang pada pilpres 2024, maka kesejahteraan masyarakat dan kemajuan Indonesia menjadi semakin dekat kenyataan. Semoga Tuhan meredhoi langkah kita,” ucapnya.