politik

Pakai Baju Adat Baduy, Pesan Jokowi : Parlemen Harus Merakyat 

Senin, 16 Agustus 2021 | 15:26 WIB
Jakarta, NAWACITAPOSTSebelum Pidato kenegaraan di Gedung MPR (DPR dan DPD) Presiden Jokowi, sudah mendapat poin atau nilai tambah dari netizen yang kebanyakan  kaum milenial, melalui media sosial.

Baca Juga : Buka Masa Sidang 2021-2022, Puan Pastikan DPR Perkuat Pengawasan Penanganan Pandemi



Jika tahun 2019 saat pidato kenegaraan di MPR, Jokowi mengenakan baju adat Sasak NTB, dan tahun 2020 menggunakan baju adat Sabu NTT yang menjadi pilihannya. Makan tahun 2021 Jokowi memakai baju adat Baduy luar.

Setiap Jokowi memakai baju adat. Selalu punya makna dan pesan mendalam. "Baduy itu simbol yang unik," kata pakar gestur dan ahli deteksi kebohongan Handoko Gani seperti dilansir detik.com, Senin (16/8/2021).

Menurut Handoko, Baduy punya beberapa faktor sehingga disebut simbol yang unik. Faktornya meliputi keguyuban hingga kesederhanaan dan juga terkait situasi pandemi COVID-19.

"Simbol pemenang COVID. Salah satu suku yang bisa bertahan, bahkan denger-denger zero case. Simbol guyub kekeluargaan. Mengingatkan kita bahwa ini saatnya semakin mendekatkan diri pada keluarga dan lingkaran terdekat lainnya," ujarnya.

"Simbol keanekaragaman SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) Indonesia. Simbol perhatian dan pemeliharaan pemerintah pada aneka ragam SARA di Indonesia. Simbol kesederhanaan mengoptimalkan alam. Hidup sederhana, beli seperlunya, pakai apa yang ada, optimalkan sesuai kebutuhan seperlunya," kata Handoko.

"Busana yang saya pakai ini adalah pakaian adat suku Baduy. Saya suka karena desainnya yang sederhana, simpel, dan nyaman dipakai," kata Jokowi di Sidang Tahunan MPR 2021.

Jokowi juga menyampaikan terima kasih kepada Ketua Adat Masyarakat Baduy, Jaro Saija, yang telah menyiapkan baju adat tersebut. Jokowi mengaku nyaman memakai pakaian adat Baduy.

Jokowi tak peduli suara di wilayah Baduy atau provinsi Banten saat Pilpres 2014 dan 2019 menang atau kalah. Bagi Jokowi, ketika dirinya jadi Presiden, maka ia bukan milik yang menang, tetapi yang kalah juga menjadi bagian utama.

Walaupun, saat Pilpres 2019 Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Maruf Amin menang di TPS Suku Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Jokowi sadar, kemenangannya karena berpasangan dengan KH Ma,ruf Amin yang berasal dari Banten. Dan, perlu waktu dua tahun, dalam proses kenegaraan (Pidato di MPR dan HUT RI) Jokowi mengenakan baju adat baduy luar.

Terlepas dari itu, suku baduy sangat berterima kasih kepada Jokowi, karena mengenakan baju adatnya tampil di acara kenegaraan yang terhormat.

Memang sejak Jokowi menjadi Presiden. Baju adat seluruh Indonesia kerap dipakai Jokowi di acara resmi kenegaraan :HUT RI, dan Pidato resmi di MPR. Ini mempunyai arti, bahwa Jokowi ingin menyatakan kepada rakyatnya, bahwa dirinya adalah presiden NKRI, sementara kepada wakil rakyat, tengoklah dan berbuatlah kepada rakyat di daerah pemilihannya dengan bukti merakyat. Pesan itu tak diucapkan, hanya dengan memakai baju adat.

Terkait baduy luar. Filosofi yang dibangunnya, pekerja keras, pantang menyerah. Jika kita perhatikan, berjalan kaki tanpa sepatu dan sandal dari desanya hanya untuk berjualan madu botol, dan biasanya pria berkelompok (5  orang)  ada  remaja, pemuda dan orang tua. Hebatnya, jualan madunya tak memaksa ke warga Jabodetabek yang ditemuinya. Dialek Sundanya kental bersuara. Seakan perbedaan tak menjadi masalah.

 






Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB