Baca Juga : Popularitas Ahok Jadi Capres 2024 Meluas Dijalankan Netizen
KETIKA gelaran Pilkada Jakarta 2017, Ahok ikut sebagai peserta atau Calon Gubernur. Karena ada tiga calon, hasilnya pada putaran pertama unggul, tapi masuk putaran kedua kalah. Isu politik identitas beraroma agama digulirkan secara Terstruktur Sistematis dan Masif (TSM).
Penderitaannya bertambah. Selain kalah, Ahok harus mendekam di penjara lebih dari satu tahun. Kini didapuk Menteri BUMN Erick Thohir atas titah Presiden Jokowi sebagai Komisaris Utama Pertamina.
Kembali ke soal kiprah Ahok pada tahun politik 2024. Tetap akan berperan dalam konstetasi politik. Namun, bukan sebagai peserta atau calon. Pasalnya masih terkendala UU hak politik yang dibatasi.
Jadi, perannya akan berada di belakang layar. Mendukung Capres dan Cagub Jakarta 2024 yang rencananya akan diadakan secara serentak, jelas Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas.
Alasan Ahok berperan di belakang layar pada 2024. Menurut Fernando, pengikut loyalnya banyak, dan para relawan tersebut siap diperintahkan Ahok untuk menentukan Capres dan Cagub Jakarta.
Walaupun Ahok melekat dengan PDIP, tapi bukan sebagai pengurus distruktur partai Banteng Moncong Putih. Hanya anggota biasa. Sehingga, peran Ahok dibelakang layar, diprediksi menjadi magnet kekuatan tersendiri dan Partai politik (Parpol) akan mendekat kepadanya.
Bukan untuk mencalonkan Ahok, melainkan menyodorkan nama pasangan capres dan Cagub untuk direstui Ahok atau sebaliknya ayah dari Nicholas Sean ini yang bakal menentukan pasangan calon ke Parpol untuk menyetujuinya.
Bisa dikatakan 2024, Ahok bukan sebagai calon, melainkan penentu Capres dan Cagub.