Jakarta, NAWACITAPOST - Sikap Politisi bisa berubah, dalam banyak hal. Melalui berbagai wujud dan aksi, tentu parameternya melalui kritik yang diucapkan. Karena itulah DNA yang tak bisa dilepas. Itulah yang terjadi pada sosok Fahri Hamzah, yang pernah menjadi wakil Ketua DPR periode 2014 -2019.
Khusus buat Fahri. Begitu getol mengkritik KPK, saat dirinya menjadi Wakil Ketua DPR, mulai dari perlunya UU KPK tentang adanya pengawasan, penyadapan, dan terkait jumlah besaran nilai Operasi Tangkap Tangan (OTT) dll.
Kini Fakri tak lagi duduk sebagai wakil rakyat apalagi punya jabatan empuk Wakil Ketua DPR. Namun, nada kritiknya tetap sama, malahan semakin bergelora, terutama usai Novel Cs tak lulus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Fahri mengkritk Novel jangan mencari pembenaran dan selalu bersafari minta bantuan supaya tetap di KPK, sindirnya kepada Novel.
Rupanya Fahri mengkritik pedas Novel cs, jika tak mau diatur, sebaiknya Novel Cs gabung di partai politik, yang mana di parpol adalah orang-orang yang tak mau diatur jika merasa tak sesuai.
Sampai-sampai netizen Graceanastasia.sw di intsragramnya Fahri Hamzah salut dan bangga dengan Fahri. Grace pun berselancar dengan kata-kata di tautan Instragam Fahri, Indonesia adalah rumah kita. Indonesia adalah kehidupan kita.
Sungguh gila jika kita merusak rumah kita sendiri. Perbedaan pendapat itu biasa, pandangan politik itu tidak masalah, yang menjadi masalah adalah ketika yang satu seolah merasa paling benar, bahkan membawa-bawa surga yang belum pernah ditemuinya untuk menakut-nakuti orang lain.
Bahkan, netizen lain bernama @dion.wahyu82 menulis dalam caption selancarnya "Seumur hidup, baru kali ini dengar suara Fahri Hamzah yang benar, bagai suara dari lorong Surga. Semoga beliau selalu mengedepankan kebenaran dan logika sehingga bisa menjadi contoh atau mentor bagi generasi muda (milineal). Bravo OM Fahri Hamzah," tulisnya memberi pesan ke isntragram @fahrihamzah.
Nampaknya, Pertobatan kritik dari politisi Fahri bukan ujug-ujug atau tiba-tiba. Ada tahapan mekanisme yang dilalui. Ketika menerima bintang jasa dari negara melalui Presiden Jokowi, Fahri tetap mengkritik, tapi dengan santun dan penuh etika kebangsaan.
Mungkin berubahnya, ketika bertemu pemimpin milenial di kota Solo. Walikota Gibran, banyak pesan yang ia tawarkan dan berikan kepada anak pertama Jokowi dan Iriana. Rupanya, pesan ke Gibran itu, langsung dilaksanakan ayah dari Jan Ethes. Kaget, tak menyangka. Seorang politisi senior Fahri bertukar pikiran dengan Gibran, langsung direspon dan dieksekusi begitu cepat oleh suami dari Selvi Ananda, pikir Fahri.
Terkait dengan kritikan ke KPK, Fahri mengucapnya melalui surat terbuka, dengan kalimat yang menohok sikat aja semua seolah dunia milik kalian saja sendiri.