Baca Juga : Novel Tidak Pegang Kasus, Giliran Gubernur DKI Anies Baswedan Siap-Siap Diperiksa KPK Soal Dugaan Korupsi Lahan Cipayung
KETIGA nama itu didasarkan pada elektabilitas. Prabowo kalau maju pilpres 2024 sudah yang ke - 4 ; Cawapres 2009, 2014 dan 2019 Capres. Hasilnya kalah. Sementara Anies dan Ganjar hanya menang tingkat Pilkada. Tragisnya Anies menang karena isu jualan ayat dan agama. Topangan dan dukungan masif dari eks kelompok FPI dan eks HTI begitu kuat dan mendongkrak namanya menang sebagai orang nomor satu Jakarta.
Banyak orang menyebut Anies, pemimpin yang pandai bermain kata dan kalimat. Namun, zero dalam eksekusi bagi kepentingan banyak warga Jakarta. Konstitusi bukan sekedar pegangan utama, tetapi konstituen (terutama eks FPI) ditampung dan diberi kemudahan-kemudahan oleh Anies.
Menurut berbagai pengamat, nama Anies masuk dalam bursa Capres wajar. Pasalnya, Jakarta menjadi panggungnya pemberitaan media, siapapun Gubernurnya.
Jika hanya sekedar meramaikan Pilpres 2024, Anies layak diikutsertakan. Atau bisa saja, itu sebagai bargaining (tawaran masuk kabinet) Anies kepada siapapun nanti presidennya. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang direshuffle Presiden Jokowi pada 2016, sadar bahwa pencapresan bukan hanya butuh elektabilitas. Yang utama kendaraan politik.
Partai politik yang berada di jalur Senayan seperti PDIP, Gerindra, Golkar, PAN, PKB, mungkin Demokrat akan berpikir dua kali mengusung pencapresan Anies. Resikonya terlalu besar. Dampaknya pada pileg yang berbarengan dengan Pilpres ikut menggerus suara pileg.
Yang jelas selain peluangnya kecil, dan sekedar meramaikan bursa capres. Tragisnya, bisa terjadi terdepak dari panggung politik nasional. Karena, kabarnya KPK lagi memanggil Anies terkait lahan tanah di kawasan Muncul Cilangkap Jakarta Timur yang bermasalah. Pertanyaannya, apakah ketika diperiksa KPK Anies bisa bernasib sama dengan Rizieg yang saat ini sedang dijeruji besi. Bisa ya dan bisa juga tidak.