Baca Juga : Bukan Dosa Jika Ganjar Pranowo Melirik Yang Lain
JIKA benar PDIP hanya ada satu nama, kemungkinan nama Puan Maharani yang diusung. Gerindra tak bisa ditawar lagi, Prabowo Subianto. Duet Prabowo -Puan, secara parlemen treshold unggul lebih dari 30 persen, dari syarat 20 persen pencalonan Capres berdasar UU.
Pencalonan duet ini, akan menghapus memori kelam pertemuan batu tulis Bogor tahun 2009. Namun, pencalonan ini menurunkan kelas kepemimpinan nasional, di internal PDIP.
Pencermatan lainnya, di PDIP selain nama Puan yang punya tiket capres 2024, ada Ganjar Pranowo. Gubernur Jawa Tengah ini, tak punya tiket, tapi elektabilitas dari sejumlah lembaga survei namanya selalu diunggulkan dan berada di dua besar.
Banyak kabar beredar, tiket Ganjar menuju 2024 bukan hanya dari PDIP, ada sejumlah Partai yang siap memberikan tiket kepada pria berambut putih yang selalu menggunakan media sosial di era pandemi ini kepada warganya.
Dari kabar ini bisa diduga, PDIP bakal terjebak dari kader partai DNA potensial atau kader partai ber DNA biologis yang punya tiket. Pasalnya, tak bisa dipungkiri, partai dalam mendekatkan dan menjaring kepada pemilih pemula, hampir dipastikan menggunakan sarana media sosial (Facebook, Twitter, Youtube, WhatsApp, dan lainnya).
Sehingga, jika medsos menjadi salah satu pegangan partai, maka Ganjar yang bakal didekati partai. Ada yang menyebut ini bisa mengulang 2004 dan 2009, yang mana Mega dikalahkan SBY, pada Pilpres tersebut.
Secara umum, ya. Namun, dalam konteks Ganjar. Harus ditilik pada aspek DNA partai Ganjar yang masih merah, belum berubah warna politiknya. Sementara SBY warnanya Biru.
Kemungkinan, PDIP menuju 2024 bakal terjebak pada pemberian tiket antara Puan dan Ganjar, sementara partai diluar PDIP dan Gerindra, rasanya pada Ganjar. Jika tiket PDIP diberikan Mega ke Puan, maka yang paling girang dan gembira, Nasdem dan Golkar. Sebaliknya jika Mega berikan ke Ganjar, kemungkinan partai lain diluar Gerindra hanya berada di jalur aman yang diam.