Baca Juga : Serangan Khilafah ke NKRI Lebih Berbahaya, Israel – Hamas Bukan Urusan Kita
KABARNYA negara Arab Saudi, Qatar dan Azerbaijan akan melakukan hal sama dengan enam negara Arab lainnya. Saat ini, ketiganya hanyak melakukan kontak langsung melalui jalur perdagangan dengan Israel.
Baca Juga : Dr. Connie Rahakundini : Buka Hubungan Diplomatik Dengan Israel, Indonesia Bisa Menolong Palestina
PADAHAL negara -negara itu, musuh utama Israel. Saat dan pasca peran terakhir dengan Israel tahun 1973 (Yom Kipur) begitu gencarnya menggempur Israel. Palestina diserang Israel, mereka itu bisa berada di barisan depan perjuangan Palestina.
Kini negara Arab itu, tak terlibat aktif lagi terhadap konflik Palestina -Israel. Liga Arab pun berlaku sama yaitu diam. Tentu seruan gencatan senjata disampaikan kepada kedua belah pihak, biasanya dulu hanya diserukan kepada Israel saja untuk penghentian perang (gencatan senjata).
Bisa, dibilang 9 negara Arab ditambah liga Arab, melihat konflik Palestina dengan Israel berdasar pada logika.
Lalu, bagaimana Indonesia yang secara geografis jauh dari Arab. Sementara yang dekat saja dengan dua negara yang berkonflik itu, malah diam saja alias tak mengurusinya.
Di Indonesia, Connie Rahakundini Bakrie (pengamat militer), Jenderal TNI (Purn) M. Hendropriyono (Mantan Kepala BIN), Penggiat Media Sosial Ade Armando, Denny Siregar, Abu Janda (pernah mewawancarai tentara Israel beragama Islam), Akbar Faisal (mantan anggaota DPR), dan masih banyak lagi. Orang-orang hebat ini melihat konflik Palestina- Israel didasarkan pada logika. Artinya menyalahkan kedua belah pihak yang berperang.
Kemudian ditambah dengan perkembangan media sosial, mayoritas rakyat Indonesia melihat konflik Palestina - Israel menggunakan logika. Artinya, tidak satu pihak saja.
Sedangkan kelompok eks HTI dan eks FPI melihat konflik Palestina - Israel, didasarkan non logika. Hanya kesamaan agama saja. Padahal kalau mau jujur, warga negara Israel yang beragama Islam jumlahnya mencapai 1.400.000 jiwa dari total 8.600.000, penduduk Israel. Dan agama Islam di Israel menempati urutan kedua setelah agama Yahudi. Sementara di Palestina, Kristen berjumlah 700.000 jiwa.
Jadi sangat jelas, bahwa eks HTI dan eks FPI terhadap konflik Palestina - Israel hanya dijadikan panggung politik saja. Boleh disebut, kedua kelompok yang dibubarkan pemerintahan Jokowi ini, memakai kacamata kuda dalam melihat persoalan konflik dua negara tersebut.