Baca Juga : SBY – AHY Panik, Pelarangan FPI – HTI Basis Dukungan Melemah, Rapuh Dan Keropos
DULU, pendopo Cikeas itu untuk dirinya, kini buat putra sulungnya, AHY. Berharap sih, ada yang meminangnya sebagai Capres dan Cawapres. Sejumlah Partai dan ormas (termasuk FPI dan HTI) pernah menjadi bagian dari drama politik yang dimainkan SBY. di pendopo Cikeas. Meja, kursi, mikrofon dan perlengkapan penunjang lainnya tersaji dengan rapih di area pendopo itu. Pembagian jatah menteri dari sejumlah partai dilakukan di pendopo tersebut.
Tema pun digullirkan berbagai macam, dari yang santun menurut versinya, sampai jualan politik identitas diolah, diramu untuk disajikan kepada pemilihnya. Iming-iming dan sederet janji dikumandangkan dari pendopo yang bahannya hampir semuanya dari kayu jati asli, itu hasil tebangan diberbagai hutan yang dilindungi, maklum dulunya berkuasa.
Kabarnya, dari pendopo Cikeas, SBY tak lagi menggelindingkan tema nasionalis religius. Lebih banyak ditekankan pada tema religius beraroma politik identitas. Boleh dibilang itu modal utamanya SBY, dan akan diberikan serta diteruskan ke AHY.
Walaupun FPI dan HTI sudah dilarang dan dibubarkan pemerintahan Jokowi. Ada banyak cara yang akan dilakukan SBY untuk mengusung tema politik identitas. SBY memegang daftar lengkap siapa aktor yang berhaluan politik identitas yang bisa dimainkan. Daftar itu sudah disiapkan dengan cermat oleh SBY. Tinggal menunggu momentum yang tepat untuk digaungkan.
Kabarnya berbagai pertemuan AHY dengan sejumlah partai dan tokoh akan mengarah pada tema tersebut. Pertemuan 22 April 2021 dengan PKS, dan 6 Mei 2021 bertemu Gubernur Anies Baswedan di Balaikota, Jakarta.
Pertemuan dua terakhir itu mengarah pada tema politik identitas dengan format jualan ayat dan mayat menjadi lagu wajibnya untuk disuarakan kepada pemilih. Jualan lainnya, seperti PKI dan kriminalisasi ulama, mungkin juga kriminalisasi KPK serta tema politik identitas lainnya.
Bagi SBY - AHY, kemenangan Pileg dan Pilpres yang diincarnya, syukur-syukur bisa didapat. Berjualan tema nasionalis, tak akan laku, karena penjualnya sudah banyak dan manjur.
Sementara partainya, kini lagi babak belur dihantam badai tsunami dari internalnya. Pembenahan dilakukan tapi tak bisa mendongkrak lagi. Jadi, yang laku dijual hanya berharap pada politik identitas.