politik

FPI - HTI Dibubarkan Kekuatan Politik SBY - AHY Diujung Tanduk

Minggu, 9 Mei 2021 | 20:09 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST - Era SBY, FPI dan HTI bagaikan dua sisi mata uang. Saling membutuhkan dan mempunyai nilai berarti. Dari sisi SBY, kekuasaan pemerintahannya bertahan dan selesai dalam jalur aman selama dua periode (2004 - 2009, dan 2009 -2014).

Baca Juga : Minta Rizieg Dibebaskan, Kader Utama SBY – AHY Membela Radikalisme? 



SEMENTARA bagi kelompok FPI dan HTI bisa leluasa bergerak. FPI melakukan sweeping sesukanya. Warung-warung makan bisa ditutup oleh kelompok serba putih ini saat bulan puasa. Berani buka warung, resikonya hancur tempat usahanya. Bisa disebut kelompok ini  beringas berformat radikalisme kerap ditonjolkan.

Kehadiran Negara (era SBY) hanya bisa diam dan menghimbau. Boleh dibilang sengaja dibiarkan ulah kelompok tersebut. HTI pun demikian, begitu bebas menyelenggarakan pertemuan akbar di gelora Bung Karno, dan kalau tidak salah dihadiri Menteri Pemuda Olah Raga kala itu, Adhyaksa Dault.

Paham-paham pun digelorakan serta diluncurkan, tujuannya menyusup keberbagai sektor pemerintahan, BUMN dan Swasta. Buktinya,  menurut Menpan RB setiap bulan ada 60 ASN terpapar radikalisme.

Lalu, apa hubungannya FPI - HTI dengan SBY. Kemenangan SBY di Pilpres 2004 dan 2009 tak lepas dari sokongan dan dukungan kedua kelompok tersebut. Mereka dua adalah ibarat mesin yang siap digerakan SBY asal ada logistik. Dan SBY yang memberikannya. Cara kelompok tersebut memenangkan SBY kala itu dengan isu gender dimainkan.

Masih ingat dengan pernyataan dari PKS dengan informasi rujukannya dari HTI, bahwa perempuan tak boleh memimpin, itu sasran tembaknya Megawati yang maju bersaing di Pilpres 2004 dan 2009 berhadapan dengan SBY didukung penuh kelompok HTI dan FPI.

Kini kedua kelompok itu sudah game over alias dibubarkan oleh Pemerintahan Jokowi. Bagi SBY pembubaran HTI dan FPI menyakitkan dan menjadi pukulan telak. Sehingga kekuatan politik Cikeas (SBY) selain diujung tanduk.

Bisa jadi, Pilpres 2024 dan Pilpres seterunya SBY hanya menjadi penonton dan penggembira. Tak lagi menjadi kekuatan utama dalam peta perpolitikan Indonesia, baik tingkatan Pilkada dan Pilpres.  Jangan-jangan, Demokrat sebagai partai, pasca 2024 sudah game over?

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB