Baca Juga : Versi KLB Demokrat, Marzuki Alie : Minggu Kedua Maret Susunan Kepengurusan Diserahkan Ke Kemenkumham
Mengetahui itu ( AHY) dalam jumpa pers yang kedua, langsung memecat dirinya sebagai kader Demokrat, tanpa adanya klarifikasi. Lalu, dia mengirim pesan WhatsApp kepada SBY dan AHY terkait kenapa dirinya dipecat, namun tidak ada jawaban.
Jawabab yang tak direspon itu, membuat dirinya semakin kuat untuk ikut KLB ketika menerima undangan helatan tersebut. KLB itu hanya menghasilkaan dua keputusan memilih dan mentapkaan Moeldoko sebagai Ketua Umum partai Demokrat, dan dirinya (Marzuki Alie) sebagai Ketua Dewan Pembina.
Pernyataan lebih tegas disampaikan oleh mantan Sekjen partai Demokrat itu, bahwa 2004 - 2014, Partai Demokrat figurnya memang Pak SBY, tapi itu dibantu dengan kerja politik unsur pengurus dan kader dalam membangun jaringanb. Jadi Demokrat besar saat itu, tidak semata-mata karena figur pak SBY saja.
Terkait AHY, Marzuki Alie menganganggap bahwa putra sulung SBY itu lemah dalam memimpin partai lemah. Buktinya dalam pertarungan Gubernur Jakarta saja kalah, lalu Pemilu 2019 sebagai ketua Kogasma suara pileg Demokrat menjadi satu digit.
Hal yang lebih parah lagi di era AHY para kader yang ingin mencalonkan menjadi caleg dan pilkada ada iuran dalam jumlah tertentu, padahal saat era dirinya, hal-hal seperti itu tidak ada.
Tragisnya era AHY juga banyak kader yang berbeda pendapat, ujungnya bisa dipecat tanpa ada klarifikasi, dan yang dipecat itu para pendiri dan deklarator Demokrat, pungkasnya.