politik

Dipecat PDI-P, Mat Mochtar akan Lawan Arogansi Risma

Jumat, 20 November 2020 | 21:11 WIB

Surabaya NAWACITAPOST - Kabar pemecatan dari DPP telah terdengar oleh Mat Mochtar Kader senior PDI Perjuangan, namun hal itu tak membuatnya gentar.


" Saya bukan pengurus, anak ranting pun bukan. Tapi saya berjuang mulai partai ini masih susah. Tahun '93 saya sudah mengawal bu Mega diasrama haji bersama teman-teman loyalis pro-Meg," kata Mat Mochtar di kediamannya daerah Bulak Banteng Surabaya, Jumat (20/11/20)


MM sebutannya mengatakan, mulai awal sampai sekarang, Ia sama sekali tak pernah meminta uang ke partai. " Posko inipun dibangun oleh keluarga saya dan diresmikan oleh pak Pramono Anung," tegasnya.


Posko PDI-P ini, menurut MM adalah hasil perjuangannya, yang mana Ia pernah dicaci maki warga dikatakan PKI, Preman dan Bromocorah lantaran ikut PDI-Perjuangan dan waktu itu tidak dipedulikannya.


" Saya bukan pengurus Partai, tapi saya 'Pelurus Partai'. Saya hanya meluruskan kenapa rekom tidak ke pak Whisnu Sakti Buana (WS) dan diberikan ke Eri. Saya tidak mau melawan rekomendasi partai, tapi yang saya lawan adalah Arogansi dan kesombongan Bu Risma," ungkapnya.


Mulai tahun 2010, PDI-P Surabaya dibikin gaduh oleh Bu Risma. " Ini yang membuat saya sebagai pelurus harus mengingatkan partai saya, bahwa rekom kemarin itu salah," tegasnya.


Kepada seluruh kader PDI-P, MM berharap agar tidak pernah ragu ketika berjuang untuk suatu kebenaran. " Jangankan hanya dipecat, dibunuh pun saya tidak akan mundur," tegasnya.


Terkait pemecatannya, MM menerima keputusan DPP PDI-P. " Saya tetep tegak lurus untuk PDI Perjuangan, sampai kapanpun saya PDI-P. Meski Gepeng tetep Banteng. Tapi Walikota-nya, saya tetep pak Machfud Arifin-Mujiaman," tegasnya lagi.



Menanggapi isu Machfud Arifin memecah belah kader Banteng, MM tegas mengatakan ini hanya ketakutan pendukung Eri-Armuji. Bahkan Ia bersumpah, bukan MA yang memanggilnya tetapi ini adalah inisiatifnya bersama kader-kader yang lain. " Saya dan mas Seno, bersama MA-Mujiaman memang tidak punya Bu Risma, tetapi kita punya Allah SWT. Dan kita bangga tidak mengekor Bu Risma. Saya adalah pejuang bukan pecundang, saya tidak pernah menyembah orang. Yang saya sembah cuma Allah SWT," ujar MM.


Menurut MM, justru yang memecah belah PDI-P Surabaya adalah Bu Risma. Dalam hal ini, MM mengajak para kader untuk jeli. Semua calon dari PDI-P, baik Pilkada maupun Pileg selalu mencantumkan gambar Bung Karno dan Megawati karena itu merupakan kebanggaan. Tapi yang terlihat hari ini adalah gambar Eri-Armuji dan dibelakangnya ada gambar Risma.


" Ini yang akan saya lawan. PDI-P itu ada karena perjuangan bu Mega dan pak Tjipto, harus kita ingat sejarah ini. Jangan pernah dikaburkan," kata MM tegas.


Disisi yang lain, MM merasa harus menyambung aspirasi kawan-kawan PDI-P ketika WS tidak diberi rekom. " Setiap hari ada ratusan SMS yang mendukung Rekom WS, namun ketika tidak diberi rekom, mereka sepakat suaranya akan diberikan ke Machfud Arifin-Mujiaman. Karena apa ? MA lebih layak dan diterima masyarakat Surabaya," katanya.


MA didukung gerakan partai bersatu," Bayangkan betapa sulitnya mempersatukan 8 partai. Ini bukan kebetulan, mungkin petunjuk dari Allah sehingga menggugah kita-kita semua untuk mendukung pak Machfud," kata MM tokoh Madura Bulak Banteng ini.


" Machfud Arifin adalah sosok yang menyatukan masyarakat Surabaya. Kedepan, tidak ada lagi gaduh dan akan bersatu membangun Surabaya," ujarnya.


Kenapa tidak mendukung Eri Cahyadi ? Mat Mochtar mencontohkan banyak kesalahan mantan Kepala Bappeko ini. Seperti amblesnya jalan Gubeng, serta banyaknya cagar budaya menjadi hotel ini karena Eri. Dan yang paling disesalkan, tempat pidatonya Bung Tomo yang menggerakkan arek-arek Suroboyo melawan Belanda, saat ini sudah diratakan dan dijadikan lahan parkir. " Ini yang membuat saya miris. Belum jadi apa-apa sudah berbuat seperti itu, kalau jadi Walikota mau dibawa kemana kota ini ?"

Halaman:

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB