Baca Juga : Warga Jakarta Dilarang Untuk ke Luar Kota Akhir Oktober 2020
TERKAIT banjir misalnya, diatasi dengan baik. Bahkan mendekati titik nol. Seperti yang ada dijalan protokol dan non protokol. Keberhasilan mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya menata kotanya. Membuat parlemen Kebon Sirih melalui pansus banjir bertandang dengan format studi banding ke kota tersebut. Boleh dikatakan menggali ilmu. Padahal dari segi struktur pemerintahan, Surabaya levelnya satu tingkat dibawah Jakarta.
Berakhirnya Risma sebagai Walikota Surabaya di tahun 2021. Kemungkinan bisa memuluskan jalannya di Pilkada Jakarta yang rencananya bakal digelar 2022 atau mungkin 2023.
Memang kabar masuknya Risma sebagai calon Gubernur Jakarta. Sempat terdengar jauh-jauh hari. Namanya tertera dalam jajaran struktur DPP PDI Perjuangan sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan (2019-Sekarang) yang mengusulkan dan menetapkannya adalah Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputeri saat Kongres di Bali 2019. Adalah sinyal penguatan radar Pilkada Jakarta.
Bahkan dalam berbagai survei nama Risma muncul di 10 besar untuk berlaga di Jakarta. Selain itu partai banteng moncong putih ini mengurutkan nama istri dari Djoko Saptoadji sebagai salah satu pilihannya.
Dengan kursi DPRD Jakarta 25. PDIP berhak mengajukan calonnya sendiri tanpa bergabung dengan partai lain. Sebab di Partai ini sudah pernah dan ada Perempuan menjadi nomor satu. Megawati pernah menjadi Presiden perempuan pertama di Indonesia. Puan Maharani Ketua DPR perempuan pertama. Jika Risma, jadi dicalonkan dan terpilih sebagai orang nomor satu Jakarta, maka dia adalah Gubernur perempuan pertama Jakarta. Hal ini dalam politik masih serba mungkin dan bisa berubah.