Baca Juga : Rocky Gerung Layaknya Bangun Halusinasi Pikiran Sendiri, Bukan Data dan Fakta
Ayah dari Gibran Rakabuming Raka, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangerap mengajak kepada semua negara dapat memastikan bahwa seluruh Negara di dunia harus mendapatkan akses yang setara terhadap vaksin Covid-19, tentu dengan harga terjangkau.
Terkait, hal lainnya dalam pidato virtual dari Istana untuk peserta Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, bahwa PBB harus senantiasa berbenah diri melakukan reformasi revitalisasi dan efisienarisi. PBB harus dapat membuktikan bahwa multilateralism delivered termasuk pada saat terjadinya krisis PBB harus lebih responsif dan efektif dalam menyelesaikan berbagai tantangan global.
Pasalnya, PBB bukanlah sekadar sebuah gedung di kota New York, tapi sebuah cita-cita dan komitmen bersama seluruh bangsa untuk mencapai perdamaian dunia dan kesejahteraan bagi generasi penerus. Apalagi, Indonesia memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan terhadap PBB, terhadap multilateralisme, multilateralisme adalah satu-satunya jalan yang dapat memberikan kesetaraan, tegas kakek dari Jan Ethes, Sedah Mirah Nasution, La Lembah Manah, dan Panelbahan Al Nahyan Nasution.
Mantan Walikota Solo itu mengatakan dengan nada tanya, Bukankah PBB dibentuk pada 75 tahun yang lalu, agar perang dunia II tidak terulang kembali dan agar dunia bisa lebih damai, stabil, dan sejahtera karena perang tidak akan menguntungkan siapapun?
Lebih lanjut mantan Gubernur Jakarta itu menandaskan bahwa tidak ada artinya sebuah kemenangan dirayakan di tengah kehancuran, dan tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi terbesar di tengah dunia yang tenggelam.
"Pimpinan sidang yang terhormat, di usia PBB yang ke-75 ini kita patut bertanya apakah dunia yang kita impikan tersebut sudah tercapai? Saya kira jawaban kita sama, belum. Konflik masih terjadi di berbagai belahan dunia kemiskinan dan bahkan kelaparan masih terus dirasakan," diucapkan Jokowi seperti dikutip suara.com.
Sedangkan mengenai prinsip-prinsip piagam PBB dan hukum internasional tidak diindahkan termasuk penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah, tambah Jokowi.
Pandemi Covid-19 , seharusnya menyatukan semua negara bersatu padu, dan bekerja sama untuk melawan musuh covid ini. Win-win pada hubungan antar negara yang saling menguntungkan harus dikedepankan dan diutamakan. Bukan terjadinya perpecahan dan rivalitas semakin menanjak, tutur mantan pengusaha kayu ini.
"Kita tahu dampak pandemi ini sangat luar biasa baik dari sisi kesehatan maupun sosial ekonomi, kita juga paham virus ini tidak mengenal batas negara no one is safe, until everyone is. Jika perpecahan dan rivalitas terus terjadi maka saya khawatir pijakan bagi stabilitas dan perdamaian yang lestari akan goyah atau bahkan akan sirna," kata Jokowi.
Teryata prediksi Rocky Gerung mengenai pidato Jokowi di Sidang Majelis Umum PBB meleset jauh. Bahkan dungu itu ternyata miliknya Buktinya, Jokowi tidak dibuli oleh 58 negara, dan Presiden tidak mengatakan keluhan bahwa ada krisis ekonomi, krisis covid-19 di Indonesia. Juga tidak ada kata bahwa negarta lain juga melakukan hal yang sama, dan Indonesia masih lumayan. Yang jelas pidato Jokowi diapresiasi dunia.