Baca Juga : Usai Deklarasi KAMI Gatot Menuai Citra Negatif
Tak habis akal. Pembentukan Kelompok Barisan Nusantara Raya (BNR) atas restunya juga. BNR ini adalah pintu masuk sebagai Capres atau Cawapres. Lagi-lagi dirinya tak dilirik.
Kemudian Gatot menghilang cukup lama. Dia sadar, bahwa untuk menuju pencapaian itu perlu kendaraan politik. Kongres Partai Demokrat pun tercium juga aroma oleh jenderal yang dipensiunkan sebagai panglima sebelum waktunya oleh Jokowi. Deklarasi mendekati Kongres partai ini didekati dan hadir. Lagi-lagi terdepak dari pencalonan sebagai nakhoda partai ini.
Gerilya pun dilakukan lagi oleh orang ini. Mencari dan mengumpulkan para pejabat, komisaris, dan menteri yang pernah dipecat dan terlibat kasus. Mereka ini termasuk Gatot sepakat mendirikan KAMI.
18 Agustus orang-orang KAMI berkumpul di depan tugu proklamator. Instinya merongrong pemerintah dengan berjualan isu komunis.
Jadi apa yang dibuat Gatot termasuk KAMI ini sebenarnya adalah ambisinya untuk mencapai Wapres atau Presiden.
Sepertinya tak laku dan tak berhasil. Yang terjadi malah umpatan, cacian dan hinaan kepada KAMI semakin gencar. Sampai-sampai Dubes Palestina yang dijebak di acara KAMI menyesal hadir di acara itu. Dipikirnya gerakan ini mendukung pemerintah Jokowi.
KAMI pun diklaim akan membentuk ke tingkat provinis. Di Bandung misalnya, deklarasi KAMI katanya di haling-halangi pemerintah. Alasanya, hotel tempat di selenggarakan =nya acara deklarasi menolaknya.
Isu komunis, ditolak dan dihalangi menjadi semacam taqkine untuk mendapat simpatai rakyat. Jusrtu yang tak terjadi simpati itu tak didapatkan.
Tepat julukan Gato bertemena dengan para pejabat yang dipecat. Akibatnya musuh bertambah banyak. Bahkan belum berkuasa saja tindakannya sudah membuat gerah dan kesal serta geram berbagai Kalangan.
sempat
Lama tidak terlihat