politik

Rizieq Shihab Di Saudi Jadi Target Ditangkap?

Selasa, 15 September 2020 | 10:34 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST- Sejak tampuk kekuasan Kerajaan Arab Saudi diberikan kepada Putra Mahkota, Muhammad Bin Salman (MBS) tahun 2017. Ia merombak banyak hal yang selama ini haram. MBS ingin Saudi tidak berharap dari minyak sebagai pendapatan utama negaranya.

Baca Juga : Petisi Cabut WNI Rizieq Shihab Lampaui Target 75 Ribu Tandatangan


Pariwisata andalannya. Berarti keterbukaan menjadi keharusan negaranya. Supaya bisa mencapai itu, mereka membangun resor besar-besaran dan mewah di kawasan Laut Merah. Saudi Arabia tidak ingin ketinggalan dari negara tetangganya seperti Qatar, yang sudah lebih dulu mencanangkan pariwisata sebagai sumber pendapatan utama.

Selain itu, di Saudi saat ini banyak dijumpai wanita yang mengendarai mobilnya sendiri. Yang mana dulu tak boleh dilakukan.

Rupanya keterbukaan yang diterapkan MBS di negaranya mendapat tantangan keras dari  para ulama kolot yang kaku dan keras. Para ulama ini menganggap apa yang dilakukan MBS adalah sebuah kejahatan dan dosa besar karena "melanggar perintah Tuhan".

Mendapat tantangan seperti itu. MBS pun bereaksi dan melakukan penangkapan terhadap banyak jurnalis, akademis, anggota kerajaan, bahkan kepada ulama yang dianggap radikal. Pasalnya mereka itu tidak sejalan dengan pemerintahannya. Penjarapun  menerpa mereka.

Hal itu juga sebagai sebuah pesan bahwa Saudi tidak akan lagi menjadi negara agama, tapi menjadi negara sekuler dengan memisahkan agama dan pemerintahan dalam ruang berbeda.

Penangkapan Profesor Syekh Abdullah Basfar dan Profesor Syekh Saud Al Funaisan ini menjadi bukti bahwa MBS tidak main-main dengan menjalankan keterbukaan negaranya. Khususnya menyangkut  pariwisata sebagai andalan negaranya ke depan.

Selain menangkap dan memenjarakan dua orang profesor itu. Ada juga ulama dari Indonesia yang menetap di Saudi, Habib Rizieq Shihab (HRS) sejak tahun 2017. HRS juga termasuk ulama yang dianggap seperti dua profesor yang ditangkap itu. HRS sudah termasuk radar yang sudah dipantau MBS sejak pendiri FPI ini tiba di Saudi.

Cuman MBS tidak bisa melakukan penangkapan kepada HRS karena Saudi menghormati Presiden Jokowi.  Sehingga HRS aman di Saudi sana, karena mendapat perlindungan  dari pemerintah Indonesia. JIka tidak ada perlindungan dari pemerintah Indonesia. HRS bisa ditangkap dan dipenajrakan sama seperti ulama-ulama  radikal lainnya.

HRS bukan hanya mengeluarkan pernyataan keras saja kepada Pemerintah Indonesia. Peristiwa tahun 2016 dan 2017 di Indonesia akibat pernyataan HRS juga. Bisa menimbulkan potensi kegaduhan, namun untung bisa dikendalikan Pemerintah Indonesia.

Pernyataan HRS yang keras ini menjadi ancaman bagi Saudi. Rizieg dikenal sebagai seorang yang mendukung berdirinya negara agama. Padahal Saudi ingin melakukan perubahan secara revolusioner

Sebenarnya,  apabila Jokowi mau. Masalah Rizieq gampang diatasi. Dibawa ke Indonesia dan ditangkap. Atau dibiarkan di Saudi menjadi ‘gelandangan ’. Hitungan politik Jokowi, biarkan saja HRS di Saudi. Sebab jika di Indonesia.

KAMI bisa memakai HRS untuk melawan  Jokowi.  Potensi gaduhnya  besar dan bisa mengganggu Indonesia dan ancaman bagi kawasan Timur Tengah,  khususnya Saudi dari  negara yang ingin menjadi negara sekuler tersendat.

Terkait pemasangan spanduk HRS di jalan-jalan  dengan taq line pulangkan HRS ke Indonesia. Bisa diartikan bendera putih sudah dikibarkan. Kekalahan FPI sudah terjadi, karena Pemimpin besar mereka  ada Saudi dan meminta dipulangkan, ujar Denny Siregar dalam channel Yioutube di Cokro TV  September 2020.

Bisa jadi pemasangan spanduk  HRS juga bagian dari kegelisahan pendukung dan yang memanfaatkan HRS  risau dan gelisah. Ketika Saudi melalui putra mahkotanya menangkap dua ulama bergelar profesor yang dianggap radikal. Jika HRS dianggap sangat mengganggu Saudi, maka potensi ditangkap harus siap dihadapinya.

 

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB