Baca Juga : Lempar Bom Molotov, Titah Megawati Tetap Sama Tempuh Jalur Hukum
Pesan yang diucapkan dan dikumandangkan itu kental kandungan nasionalismenya. Sekaligus tak ada lagi yang merasa paling mayoritas dan minoritas. Sebab, semua agama yang hidup dan berkembang di Indonesia mempunyai hak dan kewajiban yang sama.
Perbedaan dalam beragama bukan menjadi pertentangan, melainkan menjadi kunci kekuatan yang menyatukan dalam membangun Indonesia yang lebih maju.
Ucapan dan kumandang itu dalam konteks kekinian tetap masih berlaku. Bahkan perlu ditingkatkan gaungnya. Ditambah serangan media sosial (Medsos) begitu masif. Hoax pun menjadi informasi penyebaran yang sangat mudah diserap rakyat Indonesia yang belum begitu paham tentang bahaya budaya dari luar yang tidak cocok diterapkan di Indonesia.
Kepergian sejumlah anak bangsa bekerja di luar negeri, seperti negara-negara di Timur Tengah. Sebagai tenaga ahli dalam bidang pekerjaannya. Tentu membawa hal positif bagi pribadinya maupun negaranya. Pendapatan finansial dan pendapatan negara, itulah yang didapat secara ganda.
Namun ada juga yang pergi ke negara tersebut dengan hal-hal yang diluar kendali. Akhirnya merusak citra Indonesia dengan kelakuan mereka. Suriah menjadi contoh melibatkan warga negara Indonesia ikut terlibat dalam perang tersebut. Hanya dengan rayuan dan simbol-simbol serta paham-paham radikal menjadikan mereka begitu mudahnya terlibat. Afermatif ini salah kaprah. Tindakan destruktif kerap ditampilkan.
Maka benar ucapan kakek dari Puan Maharani. Jadilah orang Indonesia sesuai dengan Agama yang dianutnya.