Jokowi Semakin Gencar Kejar Korupsi Orde Baru, Cendana Berupaya Lakukan Pendekatan
Dua partai politik itu hanya dijadikan hiasan demokrasi, dan dipertontonkan kepada semua negara, bahwa Orba adalah penganut demokrasi yang benar-benar menjalankannya secara baik dan benar.
Pemilu pun digelar sebanyak enam kali; 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Pemenangnya sudah bisa ditebak dan diatur, Golkar 80 persen lebih, 20 persennya dibagi oleh dua partai. Karena wasitnya merangkap jadi pemain.
Itu semua hanya setingan yang dimainkan pada rezim otoriter demi mendapat kucuran dana hutang yang besar.Lagi-lagi, hutang yang didapat negara itu untuk kroni orba, dan Keluarga Cendana.
Politik sebagai panglima adalah cara Orba mengeruk dana melalui APBN kemudian disalurkan untuk kepentingan pribadi, kelompok atau kroninya. Gurita bisnis menjalar kepada keluarganya yang kerap disapa Keluarga Cendana.
Akibatnya, Mahasiswa pun berteriak. Demo pun digelar. Meletusnya Malapetaka Lima Belas Januari atau dikenal dengan peristiwa Malari 1974 yang dipelopori Hariman Siregar. Tak membuat ayah dari Tommy Soeharto tersingkir dari kursi presiden. Yang terjadi malah para tokoh demo pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara.
Tak cuman itu, Jenderal Soemitro sebagai wakil Panglima ABRI kala itu dan juga merangkap Pangkopkamtib yang melindungi mahasiswa pun terdepak dari singgsasana milternya, dengan alasan tak bisa menjaga keamanan. Padahal alasan sebenarnya adalah Jenderal ini karena berseberangan dengan Soeharto.
Soeharto memang pernah mengklaim, pada tahun 1980 an Indonesia swasembada beras, namun data dan fakta beras itu didapat darimana tak pernah terungkap secara jelas sampai sekarang. Jadi sah saja jika ada yang mengatakan jangan-jangan swasembadanya karena mendatangkan bahan pokok dari negara lain. Itu hanya dugaan saja.
Tragis dan ironis, kala swasembada itu yang di kobarkan rezim Orba. Rakyat semakin lapar, dan tertindas. Kejahatan merajelela dengan masifnya. Padahal kala itu tak ada alat penyebaran komunikasi seperti sekarang ini. Namun rakyat bisa merasakan dengan amat sangat penderitaan yang dilakukan rezim Orba.
Puncaknya demo besar-besaran mahasiswa bersama rakyat tahun 1998 menjadi tumbangnya orde baru dan Soeharto terpaksa mundur.Lahirlah Orde Reformasi.Dan Jokowi bagian dari pemimpin yang tak punya masa lalu yang kelam, apalagi sampai bagian dari Orba.
Waspada dan awas, serta selalu rapatkan barisan, sebab saat ini para antek Orba, Mafia Migas (plus asing), Koruptor dan penganut paham-paham radikal seperti HTI yang jelas-jelas ormas terlarang di Indonesia sejak 2017, dan penyebar hoax sudah melancarkan serangannya ke Jokowi. Tujuannya mendesak suami dari Iriana ini mundur.
Nazwa Shihab bersama Tommy Soeharto
Mereka ini mendesak mantan Walikota Solo ini mundur, karena penguasaan sumber-sumber ekonomi dan penyitaan aset telah berhasil dilaksanakan ayah dari Kahiyang Ayu ini. Berbagai cara mereka gunakan mendirikan Partai tak berhasil masuk parlemen senayan. Ikut atau bergabung dengan partai yang sudah ada, ditolak dan didepak.
Isu Komunis selalu disematkan kelompok ini kepada kakek dari Jan Ethes ini. Dengan harapan rakyat mendukung dan berdemo kepada pemerintahan Jokowi – Ma’ruf Amin. Tak berhasil juga isu ini dilancarkan.
Putus asa, kesal, gelisah, khawatir, dan ujungnya marah-marah menjadi kebiasaan kelompok ini berdemo dengan bebasnya. Namun aksinya itu, tak berhasil. Mantan Gubernur Jakarta ini tetap menjadi orang nomor satu Indonesia. Yang terjadi mereka yang mundur tak karuan rimbanya. Bahkan citra mereka semakin bertambah negatif, teman semakin sedikit. Cibiran dan umpatan rakyat terus dikumandangkan.
Sebab rekam jejak mereka sudah dikenali sebagai pembuat gaduh dan mengganggu instabilitas politik. Jadi, awas! Antek Orde Baru gunakan segala cara mundurkan atau makzulkan Jokowi.