politik

Usai Deklarasi KAMI Gatot Menuai Citra Negatif

Jumat, 4 September 2020 | 17:30 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST-Sejak dideklarasikan Koalisi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Nama Gatot Nurmantyo sepertinya mulai merosot tajam dan negatif. Bukan kawan yang bertambah, malah musuh yang bertambah. Kalangan komunitas purnawirawan tentara pun kelihatannya mulai gerah dengan ulah mantan Panglima TNI ini. Jenderal aktif selama 6 bulan tanpa jabatan itu, rupanya sedang mencari teman lagi. Tentu teman yang sepaham dan sealiran. Yang biasa berseberangan dengan Pemerintahan Jokowi.

Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan Hanya Penonton Pilpres 2024  


Biasanya dikunjungi, sekarang mengunjungi. Ada yang mulai hilang dan mulai nampak kesal serta gundah kelana tengah berkecamuk dalam pikirannya. Salam hormat ala militer tak disandangnya lagi. Disapa apalagi, menyapa lebih banyak. Sekali lagi, itupun oleh para kelompok yang berseberangan dengan pemerintah.

Pergerakannya pun terbatas. Sepatu larsnya pun tersimpan rapih di rak sepatu rumah pribadinya. Melangkah sebagai seorang sapta marga hanya sebatas pada pembacaan kertas yang tertulis penuh dengan kritikan kepada pemerintah, tanpa data dan tanpa fakta tentunya.

Bergabung dirinya di KAMI pun katanya untuk menyelamatkan Indonesia. Yang terjadi malah menyelamatkan dirinya. Tudingan dan tuduhan pun terus menghinggapinya. Yang dulu menjadi kawannya, satu persatu meninggalkannya.

Isu komunis menjadi andalannya. Baginya ampuh dan mujarab tiupan ini. Bisa mengulang peristiwa tahun 1965. Saat itu berhasil karena perkembangan media yang terbatas. Itupun hanya dikendalikan secara terbatas oleh penguasa yang merebut dengan berbekal surat perintah sebelas maret (Supersemar) yang penuh kontroversi hingga kini. Saat ini, beda jauh dan beda banget. Media sosial (Medsos) berkembang dengan masifnya. Rakyat hanya melihat rekam jejak para tokoh dari referensi tersebut. Menggurui rakyat, tak  ada gunanya lagi. Rakyat lebih cerdas dan sangat piawai membaca maksud  orang-orang KAMI berkata dan berpidato.

Pidato Gatot yang dekat dengan tokoh FPI Habib Rizieq Shihab ini bergabung di KAMI tujuannya sangat jelas, ingin mendapatkan posisi kekuasaan. Jika merebut kekuasaan tidak bisa.

Mencoba peruntungan di Pilpres 2019, tak ada yang melirik. Malah hilang dari peredaran. Menuju 2024 pun menurut survei Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research, Peluangnya sangat tipis. Bisa dipastikan hanya menjadi penonton pilpres.

Gatot Nurmantyo

Jangankan dengan Prabowo Subianto yang jelas-jelas memuncaki berbagai lembaga survei sebagai kandidat terkuat di Pilpres 2024. Dengan Ridwan Kamil, Gatot kalah telak. Itu menurut berbagai survei tentunya.

Meminjam saran dari  Kapitra Ampera politisi PDI Perjuangan. KAMI sebaiknya dijadikan partai politik dan ikut kompetisi di Pileg dan Pilpres. Itu yang paling elegen dan terhormat. Jika tidak dilakukan maka siap-siap nama seorang Gatot Nurmantyo merosot tajam, dan menuai citra negatif.

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB