politik

Din Syamsuddin Memperalat HRS

Sabtu, 29 Agustus 2020 | 17:02 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST – Habib Rizieq Shihab (HRS) adalah pendiri Front Pembela Islam (FPI). Perintahnya dipatuhi hanya oleh kelompoknya saja. Itu pun dengan memaksa. Kelompok ini militan dan cenderung anarkis. Apalagi saat bulan puasa merekalah yang paling berkuasa.

Baca Juga : Alumni ITB Minta Din Syamsudin Dicoret


Rumah makan atau diskotik yang tidak mematuhi  larangannya akan ditindak sesuai peraturan pemerintah yang berlaku dan peraturan yang mereka buat sendiri. Mengatas namakan agama adalah ciri khasnya yang tak bisa dibantahkan. Itu saat HRS masih di Indonesia.

Saat ini sang pemberi perintah itu tak berada di Indonesia. Sudah 3 tahun lebih berdiam di kerajaan Arab Saudi. Kepergiannya dari Indonesia membawa spekulasi yang berkembang liar kesegala arah.

Namun lewat rekaman suara yang diperdengarkan di Stadion Kamal, Petamburan, Rizieq menyinggung tentang konsep hijrah dalam Islam. "Ingat, hijrah bukan sembunyi, hijrah juga bukan lari. Tapi, hijrah untuk lindungi diri, hijrah untuk selamatkan negeri, dan hijrah untuk atur strategi, dan hijrah untuk atur strategi," kata Rizieq, 19 Agustus 2017 seperti ditulis Tempo.

Tak bisa dielak dan tak bisa dipungkiri juga kepergiannya ke negara Raja Salman terkait jelas dengan sejumlah kasus, mulai dari kasus pornografi, penghinaan Pancasila dan pencemaran nama baik Soekarno, hingga kasus penyebar ujaran kebencian. Lalu bagaimana kehidupan Rizieq selama di Arab Saudi?

Selama di Arab, Rizieq juga diketahui bolak-balik ke Jedah, Mekah, dan Madinah, Dia tinggal berpindah-pindah dari hotel ke hotel bintang lima. Rizieq dan keluarganya juga sempat ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk mengurus disertasinya di Universitas Sains Islam Malaysia pada 5 Mei 2017. Dari Malaysia, dia dan keluarganya kembali ke Arab sepuluh hari kemudian.

Menurut Pengacara HRS, Sugito Atmo Prawiro, selama tinggal di Arab Saudi, kliennya mendapat bantuan dana dari rekan-rekannya. Teman sesama alumnus King Saud University banyak membantu soal biaya, termasuk hotel.

Sejumlah nama pernah bertemu dengan orang ini. Ustad Abdul Somad, Zakir Naik, Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Al-Jufri, Jazuli Juwaini dan nama-nama lainnya.

Selama HRS berada di Arab Saudi, demo FPI ada, tapi tak banyak. Dan tak segarang. Bisa dibilang letupannya bagiakan asap yang mati sendiri.

Keberadaannya di Arab Saudi  membuat orang-orang FPI  memintanya pulang ke Indonesia. Ternyata suara dan teriakan FPI itu disambut pula oleh Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, dan Mantan Ketua Umum MUI,  Din Syamsuddin pun meminta HRS pulang.

Din sadar gerakan KAMI tak akan efektif, jika tak ada jumlah massa yang besar dan militan. Yang punya massa besar dan militan hanya FPI. Dan FPI hanya taat kepada HRS. Makanya HRS harus ada di Indonesia.

Ya, Din hanya memanfaatkan HRS saja. Sebab konon kabarnya dana yang sudah digelontorkan untuk KAMI lumayan besar. Dan hanya sehari efektifnya. Setelah itu redup dan sirna dihempas angin.

 

 

 

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB