Baca Juga : Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan Hanya Penonton Pilpres 2024
Mungkin tak rela dan merasa kehilangan atau tepatnya tak menyangka Ketua Umum Partai Gerindra ini sudah tak bersama mereka lagi. Karena kakak kandung dari Hashim Sujono Djojohadikusumo sudah masuk dalam perahu Jokowi. Tak ada lagi yang bisa diajak untuk merongrong kakek dari Penembahan Al Nahyan Nasution.
Mereka lalu mencari akal dengan memformat KAMI sebagai gerakan moral tapi aksinya jelas berpolitik praktis. Suara keras pun didengungkan. Dengan tujuan supaya didengar dan diperhatikan secara seksama oleh orang nomor satu Indonesia. Syukur-syukur bisa seperti Prabowo masuk KIM. Begitulah mungkin Din Syamsudin dan Gatot Nurmantyo berharap.
Isu komunis dilancarkan. Dengan harapan ada simpati dan dukungan besar padanya. Alih-alih rakyat bersimpati. Justru umpatan dan sindiran pedas menimpa dan menerpanya.
Tempat pun mereka pilih dihalaman tugu proklamator bangsa Indonesia, Soekarno dan Hatta, Jalan Proklamasi Jakarta. Berharap lagi tempat itu bisa menjadi saksi sejarah mereka. Ya tercatat dan tertulis bukan dalam lembaran negara melainkan tulisan warga di media sosial. Hampir 95 persen lebih mencela dan meragukan tindakan mereka bisa merubah nasib rakyat Indonesia.
Jokowi dan Prabowo Subianto
Bagi warga, mereka ini justru yang harus dibantu dan diobati supaya tidak merusak sendi-sendi anak bangsa dalam Bhineka Tunggal Ika yang dilandasi ideologi Pancasila. Rakyat sudah sadar dan mengerti jika ajakan mereka diikuti perpecahan dan adu domba sesama anak bangsa terjadi. Dan mungkin itu harapan dari mereka juga.
Nampaknya agenda mereka sudah menyimpang dan tidak jelas. Jika mau merebut dan menjadi Presiden. Buatlah partai, daftarkan Ke KemenkumHAM kemudian verifikasi ke KPU. Ikutlah bertarung dalam kompetisi demokrasi sehat yang dijamin UU.
Bukankah mereka paham dan mengerti tentang hal ini? Apalagi mereka pernah menjadi pemimpin di kesatuannya masing-masing. Demokrasi modern bernuansa akal sehat mengajarkan hal itu. Taati saja. Sebab di republik ini tak ada yang bisa kita sembunyikan, bila itu untuk kepentingan rakyat banyak.
Wajar dan pantas, bila rakyat mencurigai KAMI punya agenda yang perlu dicurigai dan sangat melenceng dari reformasi apalagi cita-cita luhur the founding father.