Baca Juga : PKS Serang Jokowi, Partai Gelora Bela
Tak lagi mendrop menteri kala Jokowi menjadi Presiden. Hal ini membuat pijakannya sedikit terganggu. Fasilitas dan kemudahan dari negara tak mudah lagi didapat. Sehingga membuat tersumbat juga ke Partai.
Akhirnya berkata, Pengabdiannya bukan hanya di eksekutif namun bisa dimana. Perkataan itu klise dan cenderung berharap kalau bisa diajak begitulah kalimat selanjutnya.
Pasca pemilu presiden dan legislatif 2019 Partai yang berkanto di Jalan TB memang didakati tapi bukan dari Presiden melainkan Partai. Nasdem dengan Ketua Umum Surya Paloh dan rombongan bertamu ke PKS, kemudian anak bungsu Penguasa rezim orde Baru selama 32 Tahun Tommy Soeharto Partai Berkarya (kala masih solid).
Biasalah tersaji makanan kesukaan sang tamu dan katanya obrolan tentang kebangsaan dan membangun Indonesia lebih baik.
Tak berselang lama partai ini mengalami masalah diinternalnya pendiri atau mantan elit PKS seperti Mafud Sidiq, Fahri Hamzah, Anies Matta dll mendirikan partai Gelombang Rakyat (Gelora) beririsan dengan PKS.
Belum lagi ucapan Fahri Hamzah yang meminta dana ganti rugi kepada PKS sebesar 30 Milyar karena mantan Ketua DPR ini menang di Pengadilan atas kasus yang dialaminya.
Lalu tak ada angin dan tak ada hujan PKS melalui Mardani Ali Sera dengan ‘lantang dan lancangnya’ menyuruh Presiden Jokowi mencari akar penyebab kinerja para menteri belum sesuai dengan yang dikehendaki.
Mardani dengan gagah dan berani mengatakan, presiden punya hak prerogatif untuk melakukan reshuffle kabinet Indonesia Maju. Itu sudah menyuruh. Lah partai Pemenang Pemilu saja dan Koalisi tak mengucap hal itu.
Bisa dimakulumi, perkataan Mardani ini. Pasalnya beberapa hari lalu teman-temannya yang dulu di PKS sekarang di Gelora bisa dengan mudah diterima ayah dari Gibran.
Presiden Jokowi Menerima DPP Partai Gelora yang Dipimpin Anies Matta di Istana Negara
Pikiran Mereka Gelora kan partai baru disahkan di KemenkumHAM namun belum di KPU. Atau Ali Sera ingin mendukung langkah Jokowi supaya mereshuffle menterinya untuk digantikan jagoannya atau partainya.
Tak elok dan tak patut bila PKS selalu merecoki kinerja Jokowi juga ‘memukul’ Partai Koalisi Jokowi. Ibarat kata partai ini ingin mendapat posisi jabatan dengan berbagai cara atau ingin diterima kalau perlu diajak masuk ke kabinet Jokowi. Nampaknya panggilan dan undangan dari Jokowi malah lewat saja ke kantor PKS.