Baca Juga : Khilafah Gagal Rencanakan Kudeta
Aksi wakil rakyat ini, membuat geram Aoki, bahkan Aoki menyebut Indonesia darurat mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP), P4, dan budipekerti. Dirinya tak akan pernah berhenti menyuarakan hal tersebut. Pasalnya, mereka itu melontarkannya bukan dalam candaan, melainkan sudah mengakar. Segala usia dan segala bidang mereka telah menyusup. Bagi Aoki, khilafah itu kategori teroris. Dan teroris itu tak bisa diajak kompromi apalagi diajak damai. Ibaratnya mereka itu hanya butuh waktu sebentar untuk menjadikannnya semua berwarna hitam, sedangkan kita butuh lama untuk meleburkan warna hitam di atas warna putih, urainya.
Ada benarnya juga perkataan Aoki, dalam benak khilafah, pemaksaan kehendak dan merasa paling benar adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Kompromi atau dialog tak bisa dihasilkan secara berimbang, harus mereka yang lebih dan unggul. Penangkapan yang dilakukan Densus 88 (aparat yang menangani sepak terjang teroris) kepada mereka hanya sebatas penjara saja. Paham mereka terpatri dan mengakar dalam pikiran, tak bisa terbendung. Banyak, contoh mereka yang tertangkap dan dijbloskan ke penjara akan berbuat sama, bahkan lebih.
Seperti, yang terjadi di Karanganyar-Solo, teroris yang pernah tertangkap lalu ditahan dipenjara di Jakarta (bom Thamrin), kemudian keluar lagi dari penjara, kemudian melakukan aksinya menembak petugas, tak berlangsung lama dia pun menemui ajalnya ditembak petugas. Anehnya, kelompok khilafah ini sengaja dipelihara oleh mereka yang tidak bertanggung jawab.