Baca Juga : Koalisi Nasionalis Solid, PKS dan Demokrat Tersudut
Pengusiran itu terjadi terkait soal hutang inalum. Kemudian Nasir menanyakan tentang jaminan membayar hutang itu, maka dijawab oleh bos Inalum jaminannya adalah kepercayaan. Pertanyaan soal jaminan itu diulang-ulang terus, dan jawabannya pun tetap sama, kepercayaan.
Seperti diungkapkan Kajitow Elkayeni yang tersebar luas di media sosial, bahwa "Persoalannya sebenarnya terkait hutang Inalum. Perusahaan ini adalah induk dari perusahaan pertambangan. Karena Inalum mengakuisisi Freeport, maka ia butuh modal. Jalan keluarnya dengan cara mengajukan Global Bond di pasar modal. Seharusnya Nasir yang juga pengusaha harusnya paham tentang pasar modal, namun ia menyamakan surat utang di pasar modal itu dengan utang bank," urainya.
Beringasnya kelakuan kakak kandung dari mantan Bendara Umum Partai Demokrat dalam sidang terhormat di Senayan, bisa dikategorikan preman pasar yang menagih upeti atau setoran ilegal kepada para pedagang. Padahal pedagang itu berjualan dengan legal.
Sebagai kader Demokrat, seharusnya orang ini paham tentang sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pernah menjadi Presiden selama 10 tahun dan Ketua Umum Demokrat selama 5 tahun, dalam sikap etika poltik maupun sikap etika kebangsaannya ayah dari Agus Harimurti Yudhoyono selalu mengedepankan panglima kesantunanya. Sikap santun dan diam SBY inilah yang harusnya terpatri dalam sanubari para kader partai berlogo bintang mercy segi lima.
Santer terdengar kasus Jiwasraya yang merugikan negara sebesar 13 triliun rupiah yang terjadi saat Presiden keenam berkuasa, Lalu, apakah arogansi itu untuk menutupi agar kasus Jiwasraya tidak berlanjut? Namun, perlu dicatat anggota yang terhormat tak layak disebut terhormat jika makian, marah dan arogansi dipertontonkan dalam acara resmi dan terhormat.