Ada pemandangan yang tak lazim jadi perhatian publik hari itu. Risma bersujud sambil meminta maaf di hadapan dokter usai mendengar kesulitan yang dialami tenaga kesehatan dan pengelola RS.
Baca Juga : Puji Risma, IKAMRA Dukung MA untuk Walikota Surabaya
Bahkan, banyak yang menduga aksinya berlebihan dan pencitraan yang sengaja dilakukan. Dugaan-dugaan ini sah saja, namun kita bisa membaca dengan sangat cerdas rekam jejak seorang Risma sepak terjangnya menyulap wajah kota bukan sekedar omongan atau janji belaka. Itu dari infrastrukturnya saja, warga miskin yang kesulitan terhadap akses kesehatan, ekonomi, pendidikan dan lainnya adalah sentuhan diamnya yang berhasil dirasakan secara nyata oleh Warga, sebut saja Dicky seorang warga yang bisa berobat gratis di Rumah Sakit Umum Daerah tanpa mengeluarkan sepeser pun biaya.
Jika, mau meninggalkan jabatan Walikota, sebenarnya bisa dia lakukan ketika Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Megawati Soekarnoputri pernah menawarinya sebagai Menteri, namun Risma menjawab kepada bu Mega bahwa dia ingin menyelesaikan pekerjaannya untuk rakyat Surabaya, itu diceritakan Risma saat penyusunan kabinet Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin, pada September 2019.
Goyangan Risma yang juga Kader PDI Perjuang dan masuk dalam struktur Kepengurusan Dewan Pimpinnan Pusat (DPP) PDI Perjuangan di akhir-akhir masa jabatan sebagai Walikota, dan perbedaan pendapat dan Gubernur Jawa Timur Kofifah terkait cluster baru covid-19 yang masih timbul perdebatkan bisa dimaknai juga sebagai pesan khusus dari Partai Nasdem supaya majunya Risma jika benar terjadi di Pilkada DKI Jakarta 2022 yang dipersiapkan partai besutan Megawaati tidak bisa berjalan mulus, sebab Nasdem berambisi ingin menjadi partai pemenang Pilkada. Maka 'segala cara' dilakukan, maka gangguan dan goyangan terhadap Risma yang dianggap kuat mengalahkan Petahana Anies Baswedan. Apalagi Nasdem punya kepentingan untuk masuk di tiga partai besar Pilpres 2024. Belum lagi, survei dari lembaga New Indonesia Consulting & Research yang dirilis akhir Juni 2020 menempatkan ayah dari Prananda Paloh tak masuk dari lima besar. Gaya Risma yang apa adanya, dan sudah terbukti membangun Surabaya dengan Sumber Daya Manusia yang anggaran dibawah Jakarta bisa menjadi ancaman serius.