politik

Manajemen Langit, Duka Terpahit Tak Jadi Duka

Rabu, 29 April 2020 | 11:56 WIB
Jakarta, Nawacitapost.com - Dunia politik dan social memang sangat menarik untuk diperbincangkan. Salah satu aktifis politik dan social yakni Kris Budihardjo. Lebih dikenal dengan sapaan akrab Kris. Kris dipercaya sebagai Ketua Umum RKIH ( Rumah Kreasi Indonesia Hebat ). Terlihat ramah, murah menebar senyum dan cerdas. Memberikan ide – ide untuk politisi dan masyarakat. Mungkin kebanyakan orang berpikiran, Kris terlahir dari keluarga menengah ke atas. Tapi, tahukah sebenarnya Kris memiliki kisah duka terpahit?

Kisahnya diceritakan. Kepada Ayu Yulia Yang, wartawati Nawacitapost. Tepatnya di salah satu restoran ternama daerah Duren Tiga, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Kris mengatakan bahwa suka dan duka terpahit. Tentu semua itu pernah merasakan saat masih kecil. Makan dengan garam dan minyak jelantah. Kemudian, juga pernah makan sambal hijau diberi minyak jelantah. Menurutnya, itu sudah paling sedap. Ditambahkan, lebih enak lagi sambal jelantah dengan tempe atau beras yang dijadikan kerupuk apabila dimakan pada saat itu sudah terasa mewah.

Sambungnya, itu masih kecil, masih muda usianya. Sekitar usia 11 tahun. Orang tua yang berlatar belakang mata pencaharian usaha, sedang mengalami krisis ekonomi. Namanya usaha ada pasang surut. Lebih lanjut diceritakan, pernah juga sekolah sambil kerja. Berjualan undangan dengan naik sepeda onthel. Pernah juga pulang kampung naik truk untuk irit ongkos.

Baca Juga : Raffel Jordy, Suka Berbelanja Barang Klasik Bermanfaat

Dituturkan, Kris hidup dalam kekurangan ekonomi. Tapi, tidak pernah merasakan miskin. Yakin suatu saat akan bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Seperti makan ayam dsb. Kris memang sudah lama menjadi seorang aktifis. Dari remaja, di kampung, di Solo. Didalam ketidakberadaan ekonomi, Kris tidak pernah berkeluh kesah. Tidak makan ya tidak masalah.

Kris selalu menikmati hidupnya. Kris biasa menggerakkan suatu kegiatan social sebagai pemimpin di kampung saat remaja. Dikatakan lagi, pada saat SMP kisahnya. Kris pernah berpidato memakai celana yang sobek. Kris tak malu. Tidak masalah bagi Kris dilihat orang. Tambahnya, lalu ada seorang ibu orang tua murid menangis. Melihat celana sobek dipakai Kris saat berpidato. Kemudian imbuhnya, Kris diberi celana oleh ibu tersebut.

Jerih payah Kris sepertinya sudah mulai berbuah manis. Kris terbilang cukup sukses sebagai aktifis. Namun, Kris tetap saja merendahkan hatinya. Dikatakan, sukses sekali juga tidak. Mengalir saja. Lanjutnya, sukses itu sesaat. Tolak ukur sukses tidak jelas. Seseorang dikatakan sukses apabila tercapai apa yang diinginkan dan dicita-citakan. Hanya kebanyakan pendapat orang, sukses itu jika sudah mapan ekonomi. Itu namanya capaian saja sebenarnya. Sukses itu relatif. Sukses itu adalah saat yang mendebarkan. Puncak keberhasilan yang dicapai seseorang dengan hasil sebuah tetesan. Tetesan yang bisa menghidupi rumput – rumput dan bersifat hakiki.

Kris punya keinginan. Mengedepankan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat bisa tercapai dan terwujud. Dulu, Kris pernah disebut gila. Sering berbicara politik padahal hidup Kris tidak kaya. Otak Kris disebut tidak beres. Hidup sendiri belum becus malah memikirkan orang lain. Kris memang pernah berusaha mencarikan pekerjaan buat orang lain. Usianya itu masih sekitar 18 tahun. Kris tidak pernah baper ketika dibully dari kecil. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Biasa saja baginya.

Lanjut cerita, ada mobil pertama milik Kris. Itu pun juga diberi orang, sejenis mobil tua. Sekitar tahun 1982. Ada jam tangan juga diberi orang. Kris bukan tipe suka mengumpulkan uang kalau menginginkan sesuatu. Apabila Kris menginginkan sesuatu, memberikan jangka waktu sebagai acuan. Kemudian percaya tidak percaya, itu terjadi begitu saja.

Kris punya kebiasaan yang bisa ditiru. Berapapun yang Kris dapat, disisihkan untuk zakat dimuka sebesar 2,5%. Misal Kris butuh dana 2 milyar, bayar zakat dimuka 25 juta. Ya, sesuai waktu yang diinginkan dapat 2 milyar. Kris pakai manajemen 1 tambah 1 bukan sama dengan 2. ( Ayu Yulia Yang )

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB