Jakarta NAWACITA -- Sejumlah media asing mendatangi kediaman pribadi capres Prabowo Subianto di jalan Kartanegara Jakarta Selatan, Senin (5/5) malam. Mereka diundang Prabowo yang menggelar jumpa pers khusus untuk media asing.
Media asing itu di antaranya adalah Aljazeera, ABC, Anadolu, dan BBC. Tampak pula perwakilan dari media berbahasa Inggris yang berbasis di Jakarta, Independent Observer.
Namun Prabowo melarang wartawan media lokal meliput saat dirinya berbicara dengan sejumlah perwakilan kedutaan besar negara sahabat dan media asing tersebut.
Dari keterangan tertulis yang diterima, Prabowo mengaku dirinya memang sengaja ingin menyampaikan kepada komunitas media asing dan kedutaan asing terkait pandangannya selama Pemilu 2019.
Media lokal yang ingin masuk pun dilarang oleh capres nomor Urut 02 itu. Media lokal yang hadir hanya diperbolehkan menunggu di luar pagar rumah Prabowo. Sedangkan perwakilan kedutaan negara sahabat, mereka turun dari mobil di dalam pagar rumah Prabowo, sehingga tak terpantau dari luar pagar.
Dikutip dari keterangan tertulis diperoleh dari tim Prabowo-Sandi saat bertemu dengan sejumlah perwakilan media asing, Prabowo menyebutkan, bahwa Indonesia telah menjalani kampanye politik yang sangat berat dan panjang.
"Kami telah menjalani kampanye politik yang sangat berat dan panjang. Setelah masa kampanye berakhir, kami mencoba untuk menjalin hubungan dengan media dan komunitas asing untuk menyampaikan pandangan kami," ungkap Prabowo kepada para media asing itu.
Prabowo juga mengakui, dirinya memang sengaja ingin menjelaskan kepada warga dunia melalui media asing bahwa pihaknya telah mengalami aksi kecurangan secara terbuka, yang menurutnya telah melenceng dari norma demokrasi.
"Pada intinya, kami mencoba untuk menjelaskan kepada warga dunia dan Indonesia tentunya, bahwa kami mengalami pemilu dengan aksi kecurangan yang terbuka dan terbukti melenceng dari norma demokrasi," kata dia.
Prabowo pun menuding kecurangan itu ditandai dengan pemberdayaan aparat kepolisian yang secara terang-terangan, dan institusi pemerintahan seperti badan intelijen yang telah bersikap tak wajar kepada pihaknya.
Mantan Komandan Jenderal Kopassus itu bahkan mengklaim dirinya memiliki banyak bukti laporan-laporan kecurangan. Di antaranya surat suara tercoblos seperti yang ditemukan di Malaysia.
"Kami memiliki banyak bukti dan laporan. Kecurangan surat suara seperti surat suara yang sudah dicoblos sebelum pemilu misalnya yang ditemukan di Malaysia, dan berikutnya hal-hal lain," kata dia.Tak
hanya itu, dia juga mengaku bahwa pihaknya memiliki sejumlah ahli yang akan memberikan paparan teknis terkait temuan kecurangan ini.
Prabowo juga menyebut ada pihak yang ingin merusak sistem demokrasi di Indonesia dengan melanggar ketentuan-ketentuan yang ada.
"Tapi apa yang terjadi saudara-saudara, inilah yang terjadi di Indonesia. Keinginan 267 juta penduduk Indonesia sedang dilanggar dan dipisahkan," ucapnya.