Jakarta NAWACITA - Capres Prabowo Subianto menilai, lembaga survei yang di Indonesia saat ini banyak yang bohong.
Hal tersebut dikatakannya saat capres nomor urut 02 tersebut kampanye akbar di Makassar Sulawesi Selatan. Minggu (24/3). Ia menyebut, lembaga survei banyak yang akal-akalan dan melakukan survei sesuai pesanan.
"Rakyat sudah capek dengan pencitraan, sudah capek dengan lembaga survei yang akal-akalan yang banyak bohong," ujar Prabowo di kampanye akbar, di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (24/3/2019).
"Sesuai pesanan, habis itu udah dibayar oleh kelompok ini dia kelompok yang satunya lagi minta bayaran lagi," sambung dia.
Dia pun menilai apa yang dilakukan lembaga-lembaga survei tersebut kuno.
"Ini sudah kuno. Saya kasih nasihat ya ke adik-adik yang di lembaga survei itu kuno, kerjaanmu kuno. Lama-lama kau tidak punya pekerjaan lho karena rakyat nggak percaya dengan kamu punya pekerjaan itu alias banyak bohongnya," tutur Prabowo.
Prabowo mengatakan, rakyat saat ini sudah semakin pintar sehingga tidak bisa dibohongi lagi. Apa yang diinginkan rakyat adalah sebuah perubahan. "Rakyat ingin perubahan," katanya.
Menanggapi tudingan Prabowo tersebut, para pemilik lembaga survei menilai pernyataan itu dilandasi oleh pengalaman Prabowo yang pernah menjadi korban lembaga survei di Pilpres 2014.
Seperti dikatakan Denny Januar Ali, pendiri LSI Denny JA, pernyataan Prabowo imbas dari pengalaman pribadinya pada Pilpres 2014 lalu. "Jadi saya melihat pernyataan Prabowo itu adalah pengalaman personal dia yang pahit karena dia pernah tertipu oleh lembaga survei yang salah, yaitu pengalaman quick count di Pilpres 2014 cuma itu tak bisa di gebyah uyah (generalisir) untuk semua lembaga survei," ujar, kepada wartawan, Senin (25/3).
Pernyataan Prabowo, jelas Denny juga diwarnai dengan melihat elektabilitas Prabowo-Sandi yang selalu kalah dengan Jokowi-Ma'ruf. Namun, menurutnya hasil itu merupakan fakta karena semua lembaga survei mengeluarkan hasil yang sama. Perbedaannya hanya menunjukkan selisih antarpaslon.
"Kebetulan sekarang ini lembaga survei hasilnya tak menyenangkan Prabowo, jadi coba cari saja di Google, semua lembaga survei yang berjumlah sekitar 20, itu Jokowi menang, yang beda hanya selisihnya, ada yang selisihnya kecil di bawah 10% ada yang di atas 10%," ucapnya.
Hal senada diutarakan oleh Sekjen Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) Yunarto Wijaya, ia menilai Prabowo trauma dengan lembaga survei yang sempat membohonginya. Dia menyarankan agar Prabowo menelaah pengalaman pribadinya secara ilmiah.
"Sebenarnya Prabowo lagi curhat dan cerita tentang pengalaman dibohongi lembaga survei di tahun 2014, sayangnya dia tidak bisa mengeneralisasi dari pengalaman pribadinya dan kemudian mendelegitimasi sebuah karya ilmiah yang banyak dilakukan oleh lembaga survei atau lembaga riset," katanya.
Kemudian Direktur Riset Populi Center, Usep S Ahyar menambahkan hasil dari lembaga survei melakukan pekerjaan sesuai dengan metodologi ilmiah dan hasilnya pun dapat diuji. Jika keberatan, ia menyarankan lebih baik melaporkannya ke dewan etik.
"Nah sebenarnya ini kan retorika ya, ya menurut saya ditunjuk saja mana yang berbohong kemudian kenapa berbohong? Kalau memang berbohong mengadilinya itu kalau menurut saya bukan dengan politik, tapi dengan cara diajukan ke Dewan Etik (Persepi), lalu kemudian tolong diperiksa," paparnya.